Rindu Kampung Halaman, Nanang Mekaplar Buat Beberapa Lagu Berbahasa Nusa Penida

209
Nanang Mekaplar saat rekaman di studio.

SULUH BALI, Nusa Penida – Bahasa Nusa Penida dialek khas diluar pakem bahasa Bali menarik diexplore sebagai lirik lagu. Sisi eksotik basa Nusa ditangkap oleh seorang musisi lokal I Ketut Sudiarta yang dikenal dengan nama populernya “Nanang Mekaplar”.

Menyelipkan homoris dan jenakaan dalam lirik mampu memancing warga Nusa Penida bangga dengan jati dirinya. Kehidupan sosial masyarakat menginspirasi buat Nanang Mekaplar menggarap alunan nada dan lirik bergenre pop. Nanang Mekaplar menyuguhkan lagu tidak stagnan pop melainkan kalaborasi musik daerah.

Lahir dan besar disebuah desa bagian timur Nusa Penida tepatnya di Dusun Karang, Desa Pejukutan tidak menyurutkan berkreasi tanpa batas dan sekat yang membedakan. Pertama, buat dirinya berkecimpung dunia tarik suara khususnya lagu pop Nusa Penida sebatas panggilan jiwa sebagai anak lokal.

Proses syuting video klip yang digarap sendiri dan direkam sendiri oleh Nanang Mekaplar.
Proses syuting video klip yang digarap sendiri dan direkam sendiri oleh Nanang Mekaplar.

Lagu ledok-ledok mendongkrak popularitas penyanyi Nanang Mekaplar. Pasalnya, lagu tersebut menggambarkan makanan khas Nusa Penida yang dimana sering menjadi santapan setiap pagi atau kapan pun berada ledok selalu dinanti. Kerinduan besar tempat lahir, ledok mampu mengusir kejenuhan dan ruwet serta ingak kampung halaman.

Nanang Mekaplar pada dasarnya terjun di tarik suara hanya sebatas pelampiasan diri berkesenian. Tapi, respon masyarakat khususnya Nusa Penida sangat tinggi. Video yang dilayangkan melalui proses kekinian sangat membantu promosi secara masif. Ia pun dikenal.

“Merasa Lega dan bangga ketika pulang kampung dikenal masyarakat. Dibawa senang hasil berkesenian muaranya ada hasil setidaknya bisa bertemu dengan nyame Nusa, ” ucap Nanang Mekaplar saat ditemui performance di Batumulapan baru-baru ini. Dua lagu saja sudah membius masyarakat yang hadir dengan lagu andalan Ledok-Ledok.

Ia menjelaskan bahasa Nusa itu unik, spesial dan khas, karena sebagai identitas diri untuk memperkuat jati diri yang berkarakter. “Kita harus bangga dengan apa yang kita miliki dulu termasuk bahasa utk bisa membanggakan kekayaan dan keindahan alam yang kita miliki, ” terang Nanang yang berdomisili di Kalimantan.

Tanpa rasa bangga dan percaya diri dengan kemampuan, kekayaan diri termasuk bahasa Nusa, kita susah membanggakan budaya dan alam sekitar pada dunia luar, meski kemajuan ada di depan mata. Namun, tetap menghias diri menapak kemajuan Nusa Penida sesuai kemampuan masing-masing bukan malah saling iri sesama teman maupun nyama Nusa, ” tutup Nanang. (SB-sjd)

Comments

comments