Seniman Ketut Jingga menabuh rindik. |foto-raka|

 

SULUH BALI, Denpasar – Karena ketukanannya terhadap gambelan rindik, seniman Ketut Jingga bisa jalan-jalan ke luar negeri seperti Tiongkok dan Jerman. Bukan hanya itu, ia juga memperoleh penghargaan seni Wija Kusuma dari Pemerintah Daerah Buleleng tahun 2005, Trophy Kesenian dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata waktu itu Jero Wacik tahun 2006. Kemudian pada tahun 2012 ia mendapatkan Penghargaan Seniman Tua dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Hanya saja ia ngaku merasa tidak betah ketika tinggal dan menabuh di luar negeri. “Saya merasa tidak nyaman dan tersiksa sekali ketika berada di luar negeri. Terutama karena makanan, perut saya merasa tidak cocok. Biih waktu di Tiongkok itu, tiap hari saya hanya dikasi bubur yang rasanya aneh,” ujarnya dalam bahasa Bali dengan logat Buleleng yang kental.

Ketut Jingga, ditemui Rabu (9/7/2015) di Taman Budaya, dipercaya oleh Pemerintah Daerah Buleleng pada stand Pesta Kesenian Bali karena ketrampilannya menabuh sekaligus membuat perangkat gambelan rindik. Bahkan laki-laki asal Desa Sari Mekar, Buleleng ini sudah malang melintang di seantero Bali untuk melatih (penguruk) tabuh rindik, tari dan tabuh joged bumbung, hingga tabuh angklung. “Kalau bapak perlu pelatih atau penguruk joged, baik untuk tari dan tabuhnya tiyang siap,” ungkapnya berpromosi. “Tapi bukan joged dengan goyang-goyang seperti sekarang itu. Tiyang masih tetap mempertahankan joged ajeg Bali,” ujarnya sambil tertawa. Ketut Jingga juga ngaku sering dipercaya menabuh rindik mengiringi acara-acara resmi, baik di Denpasar maupun di Buleleng.

Untuk membuat perangkat gambelan rindik, Ketut Jingga bersyukur dan merasa beruntung, karena bambu sebagai bahan untuk membuat gambelan rindik banyak tumbuh di desanya. “Untuk bahan membuat rindik ini, bambu yang paling bagus adalah bambu atau tiying tabah. Sering juga disebut tiying grantang. Ini bahan yang terbaik, dan suaranya pun sangat bagus. Berbeda sekali dengan bahan dari bambu jenis yang lain. Kebetulan tiying tabah ini banyak ada di desa saya,” tuturnya. Harga untuk satu perangkat gambelan rindik ia bedakan ada yang jenis dengan ukiran dan ada yang polos atau tidak berukir. “Yang dengan ukiran biasanya harganya bisa sampai Rp 1 juta, tapi yang biasa atau tidak berukir sekitar Rp 700 ribuan,” paparnya. (SB-Raka)

Comments

comments