Rilis Album ke 4, Marapu Sisipkan Beberapa Bahasa Daerah di Beberapa Lagu

10
Marapu saat presscon di Warung Mina.

SULUH BALI, Denpasar – Sejak awal terbentuk hingga akhirnya memutuskan hijrah ke Bali, Marapu lahir di Jogja tahun 1999 silam dan melahirkan tiga album. Melebarkan sayap musiknya di Bali, satu album pun lahir. Album yang bertajuk Won’t Be Fooled ini menjadi album ke empat mereka selama karir, dan sekaligus menjadi album pertama sejak mereka hijrah ke Bali. Uniknya album yang berisikan 13 buah lagu ini terbilang berbeda dengan tiga album sebelumnya.

Alasan lain yang membuat nama mereka mungkin belum dikenal secara luas di Bali, karena band yang beranggotakan Yanto (vokal), Dondho Kapita (bass), Micah Johnston (drum), Ryo Santosa (rhythm gitar), Novantara Bjs (lead gitar) dan Domi Kia Beda pada keyboard ini baru pindah ke Bali sejak 2013 lalu.

Hampir 19 tahun berada di jalur musik reggae nasional, di Bali sendiri, nama Marapu Band mungkin belum terlalu banyak dikenal secara keseluruhan. Namun band yang mengusung genre roots reggae ini kerap tampil di panggung-panggung festival musik reggae besar di Bali, macam Bali Reggae Star Festival yang hampir diikuti setiap tahunnya.

Perbedaan mencolok terletak pada proses rekaman dan sound yang dimunculkan. Semua album di dalam album. “Semua lagu di dalam album ini kami rekam secara live. Soundnya juga kami bedakan. Tidak seperti sound biasa. Kami lebih memunculkan warna sound khas musik reggae tahun-tahun70-an yang seperti suara khas dari rilisan piringan hitam,” kata Arno yang merupakan manager dari band Marapu saat menggelar konferensi pers, di salah satu lokasi di Denpasar, Jumat (6/4) kemarin.

Pria yang aslinya berasal dari negara Prancis ini lebih jauh mengatakan untuk sementara ini, album ini akan dirilis 1000 keping dalam bentuk CD. “Selain rilisan fisik, kami juga akan fokus untuk menjualnya di digital music store. Kami akan mulai menjualnya tanggal 13 April mendatang di hampir di semua digital music store di dunia,” tambahnya,.

Selain album baru ke-4 ini, tiga album sebelumnya juga telah mulai dijual di digital music store sejak Oktober 2017 lalu. Sementara itu, menurut Yanto selaku vokalis, lagu-lagu di dalam album ini mengangkat isu-isu sosial, lingkungan, hingga isu politik. “Tidak ada lagu di dalam album ini yang mengangkat tema cinta,” ujarnya. Pesan yang ingin dikampanyekan di dalam album ini menurutnya lebih kuat dibandingkan album-album sebelumnya.

Untuk mendukung lebih kuat lagi misi yang ingin disampaikan lewat album ini, Marapu juga memasukan beragam bahasa di dalam beberapa lirik lagu. Ada bahasa Sumba, bahasa Papua, bahasa Bali, Indonesia, Inggris hingga bahasa Jamaica. Keputusan memasukan tiga unsur bahasa daerah ke dalam album ini diakuinya karena Marapu sendiri ingin musik mereka bisa menjangkau semua lini. Bahasa daerah juga diakuinya sebagai “identitas” Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras dan agama.

“Karena musik reggae kan aslinya berasal dari luar. Jadi dengan memasukan lirik bahasa daerah, kita bisa memasukan identitas kita sebagai Indonesia. Selain itu, juga karena bahasa daerah adalah notasi asli dari nenek moyang kita yang perlu kita jaga secara terus menerus,” imbuh pria berambut gimbal ini. Dari 13 lagu, ada lima lagu lama yang memang sudah sering mereka bawakan di atas panggung. Sedangkan sisanya adalah lagu baru. “Saya berharap album kami ini bisa diterima,” tandasnya. (SB-msl)

Comments

comments