Rendi Tewas Minum Air Gratis | GPS Sebut Tidak Cukup Minta Maaf, Harus Ada Tindakan Pidana

5574
Pasek Suardika (foto net).

SULUH BALI, Denpasar – Anggota DPD-RI Gede Pasek Suardika (GPS) minta polisi untuk mengusut adanya unsur pidana dalam tewasnya murid kelas 1, SMPN 2 Denpasar, Rendi Rizaldi (13), Kamis (13/4/2017) setelah meminum air di AMO (Anjungan Air Minum Otomatis) milik PDAM Denpasar.

Anggota Forum Alumni (FA) Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) menulis di laman facebooknya, bahwa pihak yang bertanggungjawab pada alat tersebut tidak cukup hanya meminta maaf saja, “Fakta itu bukanlah hal sepele.”

Selain memenuhi unsur pidana, kata mantan Ketua Komisi III DPR-RI, tradisi ini bila dibiarkan akan juga sangat berbahaya, karena fasilitas umum terus dikelola sedemikian buruk dan tidak aman, “Serta tidak ramah untuk anak anak.”

GPS alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini, menyebut potensi Pidana muncul, karena, Pertama harus harus diteliti siapa yg bertanggungjawab terhadap alat tersebut. “Akibat terjadinya kelalaian menyebabkan matinya orang lain. Ini adalah pidana, diatur dalam KUHP.”

Yang kedua kesempatan diteliti spesifikasi alat air minum tersebut di APBD, lalu di proses tender atau penunjukkan. Cek asli barangnya. Kalau terjadi penurunan kualitas maka itu sudah ada unsur korupsinya juga, “Aparat penegak hukum harus berbagi tugas. Polisi usut pidana penyebab meninggalnya si anak, kejaksaan buka penyelidikan soal kemungkinan terjadinya mark up atau perubahan spesifikasi dari pengadaan tersebut.”

Jadi ini harus jadi pelajaran semua pihak, agar tempat umum adalah tempat yang aman dan membahagiakan bagi warganya. Bukan sebaliknya, jelas GPS. (SB-wan)

Comments

comments