Reklamasi Pro-Kontra, Eka Darmadi Hadirkan 3 pakar

256

Kawasan Tanjung Benoa dilihat dari lautan (foto Ijo).

SULUH BALI, Denpasar — Alam Bali sudah diwarnai kehidupan global yang berwujud materialistik. Dinamika masyarakat Bali mendorong sebuah sirkulasi budaya pragmatis di hampir semua bidang. Hal ini menjadi mainstream wacana media setia saat baik dalam sentuhan edukatif maupun komersial. Demikian disampaikan Ketua Panitia Seminar Bertema “Pro-Kontra Revitalisasi Teluk Benoa” I Gusti Agung Eka Darmadi di Hotel Inna Bali, Denpasar, Senin (8/12/2014).

Karena itu pihaknya, kata mantan komisioner KPU Badung ini mengadakan seminar dengan menghadirkan tiga pakar untuk memberikan pemahaman tentang reklamasi tersebut pada masyarakat, sebab selama ini terjadi di masyarakat pro dan kontra dalam menyikapi rencana reklamasi Teluk Benoa.

“Tujuan ini adalah memberi pemahaman kepada masyarakat tentang manfaat reklamasi tersebut, sehingga warga memahami secara logis dalam menyikapi reklamasi tersebut. Oleh karena itu kami undang dari warga yang menganggap yang pro dan kontra menyikapi kasus tersebut,” katanya tentang seminar yang banyak dihadiri aktivis.
Ketiga pakar yang dihadirkan adalah, Ahli Geoteknik dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Prof Dr Herman Wahyudi, Pakar Pengelolaan Pesisir dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Dietriech Geoffery Bengen dan Ir.Dedi Tjahjadi Abdullah, Dipl.HE ( Ahli Sumberdaya air dari ITB).
Menurut Ahli Geoteknik dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Prof Dr Herman Wahyudi mengatakan, reklamasi di Teluk Benoa, Bali, akan membawa dampak positif bagi perairan sekitarnya.

“Dalam pembangunan revitalisasi (reklamasi) sudah diperhitungkan dari berbagai aspek agar tidak sampai merugikan perairan di Bali. Terlebih Teluk Benoa saat ini jika dibiarkan tidak dilakukan revitalisasi justru akan bertambah buruk, dimana sendimentasi terus menumpuk di kawasan tersebut.”
Ia mengatakan dalam melakukan reklamasi sudah memperhitungkan dampak lain, termasuk tata letak dan bentuk pulau-pulau reklamasi agar tidak menyebabkan erosi dan sindementasi baru.

“Salah satu pulau reklamasi direncanakan dalam bentuk timbunan revitalisasi yang cukup tinggi beserta fasilitas penunjangnya, sebagai area tempat pelarian masyarakat mengindari gelombang tsunami,” ucapnya.

Sementara itu, Pakar Pengelolaan Pesisir dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Dietriech Geoffery Bengen mengatakan perairan Teluk Benoa, Bali, perlu dilakukan rivitalisasi dalam mengamankan biota laut dan tanaman bakau.

“Keberadaan Teluk Benoa harus segera dilakukan revitalisasi dalam upaya menyelamatkan biota laut dan mangrove dari serbuan sampah dan pendangkalan (sentimentasi lumpur),” katanya pada seminar nasional bertema “Pro-Kontra Revitalisasi Teluk Benoa’ di Denpasar.

Ia berpendapat saat ini pemanfaatan Teluk Benoa yang luasnya mencapai 1.832 hektare sebagai kawasan pariwisata, pemukiman nelayan, pelabuhan, TPI, penangkapan ikan, keramba, tambak dan pembesaran kepiting.

“Karena terjadi pendangkalan dan abrasi tersebut menyebabkan Pulau Pudut di kawasan itu juga terkikis dari luas awal sekitar 8 hektare menjadi 1,055 hektare. Langkah untuk menyelamatkan kawasan tersebut adalah dengan melakukan revitalitasi atau reklamasi,” ucapnya.

Dietriech lebih lanjut mengatakan dengan melakukan revitalisasi tersebut diharapkan keterpaduan aspek teknis, lingkungan, sosial budaya dan ekonomi agar terbangun dalam kawasan tersebut.

“Kawasan yang rencananya direvitalisasi dengan luas optimal mencapai 700 ha, dimana 40 persen akan digunakan ruang terbuka hijau dan 60 persen dimanfaatkan untuk pariwisata,” katanya. (SB-ant)

Comments

comments