Rejeki Sebagai Saudagar Babi

421

Pan Ayu bersama babi-babinya (foto-raka)

SULUHBALI.CO, Tabanan – Bagi peternak babi, terutama di desa-desa, sangat terkait dengan keberadaan profesi saudagar babi. Usaha ternak rumahan yang rata memelihara babi tidak begitu banyak, tentu tidak mungkin bisa langsung berhubungan atau menjual langsung kepada pihak tukang potong babi. Kecuali disekitar desa tersebut ada warga yang jualan nasi dengan daging babi atau babi guling. Itupun kebanyakan para pedagang nasi, juga pelihara ternak babi. Jadilah kesempatan yang menghubungkan antara peternak rumahan dengan tukang potong babi tersebut diambil alih oleh saudagar babi.

Pan Ayu (50) sudah menggeluti usaha sebagai saudagar babi sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Itupun ia awali sebagai buruh pada saudagar yang sudah lebih dulu pengalaman. Buruh mengangkut, mencarikan informasi ke pelosok-pelosok desa, siapa yang akan menjual babi, itulah tugasnya. Informasi tersebut kemudian ia laporkan kepada saudagar yang mengajaknya. Lambat laun, karena ia juga suka jalan-jalan, semua pengalaman serta ilmu yang ia dapat sebagai buruh pada saudagar babi tersebut, mendorongnya untuk melakukannya sendiri.

Kini kakek dengan 3 cucu, yang  masa mudanya getol main sepak bola di desanya, Desa Jegu, Penebel, Tabanan ini, mulai mandiri sebagai saudagar babi. “Ya dapat untung Rp 500, Rp 1000 per kilo sudah cukuplah,” katanya suatu ketika. Ia menjelaskan, sebagai saudagar, sangat ditentukan oleh factor kejujuran terutama menyangkut harga di pasar dan timbangan. Contohnya, harga di tukang potong Rp 20 ribu per kilo, ia hanya akan mematok harga Rp 19.ribu per kilo. “Tidak berani ngambil untung terlalu banyak. Karena kebanyakan sudah jadi pelanggan. Kalalu selisih terlalu jauh, peternak akan kapok jual ke kita,” kata laki-laki yang masih nampak enerjik ini, menguaraikan sedikit rahasianya. Lebih lanjut ia juga menjelaskan, kalau faktor timbangan juga menjadi penentu, untuk bisa mendapat kepercayaan oleh peternak atau penjual babi.

Disebutkan dan diwanti-wanti olehnya, ia tidak mau mempermainkan timbangan. “Untuk menjaga kepercayaan, untuk bisa penjual lebih yakin, saya persilahkan penjual sendiri yang menyiapkan timbangan. Itu cara saya untuk menjaga kepercayaan,” kata Pan Ayu, tentang resepnya. Benar saja, Pan Ayu yang kini mengajak tenaga 2 orang, tak pernah sepi dikontak oleh mereka yang akan menjual babi. Saban hari, ia dengan mobil pick up hitam yang penuh dengan bangsung besi berisi babi. Siap ia bawa ke tukang potong. “Biasanya dikirim ke Denpasar dan Badung,” katanya. Disamping dikirim untuk tukang potong, ia juga menyiapkan pesanan babi yang diperlukan saat ada warga akan menggelar upacara maupun hari raya. “Kalau pesanan untuk uapacara dan hari raya keuntungan yang didapat bisa lebih,” katanya. (SB-Raka Wirawan)

Comments

comments