Ratusan Tahun Dikubur, Jro Wayan Kulit Diaben Dengan Lembu Berlapis Emas

10165
Lembu Berwarna Emas

SULUH BALI, Nusa Penida – Kisah perjalanan leluhur Banjar Minggir bernama jro Wayan Kulit baru terungkap. Ratusan tahun berlalu hijrah ke Banjar Minggir karena berselisih paham dengan saudaranya. Perselisihan ini memicu gejolak emosi tidak bisa dibendung, Jro Wayan Kulit memutuskan pindah dari asalnya Metaki berjalan mengarah ke timur.

Setelah lama menempuh perjalanan, sampailah beliau di sebuah desa ujung selatan Desa Batununggul yang bernama banjar Minggir. Sampai sejuah ini Jro Wayan Kulit belum bisa dipastikan meninggalnya, hanya saja dipekirakan terlihat dari bukti saat menggali kuburan terdapat taring babi, kerang, sawan klasik. Anehnya lagi giginya masih utuh sempurna, kepala menghadap ke barat menoleh selatan. Keempat saudara Jro Wayan Kulit antara lain Papak Badeng, Dendeng merah dan Sapi Ayam.

Kuburan Jro Wayan Kulit tidak satupun warga sekitar tahu, pada waktu itu tidak ada setra (kuburan) umum melainkan dikuburkan di areal tegalan warga atau bahasa Nusa Penida Mel. Tegalan tersebut ditandai sebuah batu kecil, saat digarap warga bercocok tanam satupun disekitaran kuburan palawija tidak bisa hidup.

Keanehan tersebut membuat petani tidak ada firasat bahwa tempat tegalan tersebut ada sebuah kuburan. Aura mistik terasa kental ketika memasuki tegalan, bulu kuduk berdiri petani merasakan sesuatu yang aneh dan janggal. Lambat laun mimpi aneh diarasakan warga Minggir, kegelisahan tersebut disampaikan para tetua ( pelingsir ).

Menurut Ketua Panitia saat dijumpai acara ngeben Jro Wayan Kulit, I Ketut Suartina mengatakan kegelisahan yang dirasakan warganya membuat Suartina bersama keluarga mencari orang pintar untuk mencari kejelasan apa yang sedang terjadi di desanya.

Tidak cukup sampai disana kepastian akhirnya terungkap ketika Suartina bersama keluarga menanyakan kepada Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa, Geria Dukuh Samiaga, Penatih, Denpasar. Beliau memberikan jalan ada seuatu yang tidak beres disana. Panjang lebar bertutur, ada leluhur yang belum diaben ratusan tahun.

Sepulang dari Denpasar, Suartina menyampaikan  hasil pertemuan dengan Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa.

Hasil pertemuan tersebut mengacu pada sumber yang terkait berupa lontar, tahun 2013 rencana ngaben massal menyertakan Jro Wayan Kulit, tapi banyak kendala yang dihadapi. Alih-alih ternyata leluhur di desa tersebut tidak mau ngaben bersama dengan yang lainya. Baru tahun 2016 Jro Wayan Kulit perencanaan yang matang upacara ngaben digelar, dipuput langsung Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa.

Membayar kaul perti Sentana Jro Wayan Kulit metiwatiwa dibayar dengan kaul blayak awakul. Petulangan berupa lembu berwarna emas diberapa titik lembaran emas diserbar, kawat emas total emas yang digunakab sebanyak 300 gram. Runtutan acara ngaben Jro Wayan Kulit diawali dengan ngeruak, ngebet dan puncak ngaben berlangsung 21 Agustus.

“Kami berharap melalui upacara ngaben leluhur kami dapat tempat yang baik mudah-mudahan perti sentani diberikan jalan yang baik dan rahayu, ” terangnya.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mendengar upacara unik tersebut menyempatkan diri mengungkungi ngaben masal Jro Wayan Kulit. Bupati Suwirta berbincang dengan ketua panitia terkait perjalanan jro Wayan Kulit.

Bupati Suwirta mengatakan piutang kepada leluhur harus dibayar, karena berkatnya kita bisa hidup. Mudah-mudahan yang yang dipersembahkan berjalan mulus dan labda karya. (SB-sjd)

Comments

comments