Ratusan Kepiting Bakau Dilepaskan ke Habitat

134

Ratusan ekor kepiting bakau Dabo Ambon saat dilepas. |foto-ijo|

 

SULUH BALI, Mangupura – Ratusan ekor kepiting bakau Dabo Ambon, dilepas oleh Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Denpasar, di areal Ekowisata Wanasari Tuban, Senin (16/3/2015) sore.

Kepiting tersebut dikirim dari Dabo, Ambon dengan menggunakan pesawat trigana menuju Makassar, kemudian diterbangkan dari Makkasar dengan pesawat Garuda GA 621 dan berhasil digagalkan pada Minggu (15/3/2015) malam di Bandara Ngurah Rai.

Ratusan kepiting tersebut tidak dilengkapi dokumen yang dipersyarakatkan dari balai karantina ikan dan menyalahi ketentuan aturan, karena dalam kondisi sedang bertelur.

“Jumlah total ada 151 ekor, mati 13 ekor‎, betina yang sedang bertelur ada 81 ekor, dan 57 kepiting jantan. Rencananya mau dipasarkan di Propinsi Bali,”terang Kepala ‎Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Denpasar, ‎Habrin Yake.

Kepiting bakau yang dikirim menggunakan pesawat trigana hanya disertai dengan SMU (Surat Muatan Udara) tersebut adalah menyalahi aturan. Dimana yang boleh dilalulintaskan hanya kepiting yang tidak bertelur dan ukurannya diatas 200 gram.

Berdasarkan Permen I tahun 2014 dan terkait UU Karantina tahun 1992, ratusan kepiting tersebut tidak dilengkapi dokumen dan sebagian kepiting bertelur.  ‎”Ini harus dilepas kealam dan habitatnya. Dari penuturan oknum penerima, dirinya mengaku tidak tahu bahwa kepiting tersebut bertelur dan tidak ada dokumen kelengkapan,”terang Habrin.

Sementara itu kepala Balai Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut Denpasar‎, Ikram M Sangadji mengatakan, karena habitat kepiting mangrove tersebut adalah lingkungan berlumpur‎ dan berlokasi dihutan mangrove. Maka dilepaslah kepiting tersebut dikawasan hutan mangrove Wanasari Tuban.

Dimana kelompok nelayan tersebut dikenal juga sebagai sentra kelompok pembudidaya dan pembibitan kepiting bakau.

‎”Harapan kami agar kepiting ini bisa dikembangbiakkan dan mendukung proses regenerasi serta bisa dimanfaatkan masyarakat. Kami hanya ingin apa yang dilakukan balai karantina bisa dikembalikan kehabitat dan ekosistemnya,”‎ucap Ikram.

, Mangupura – Ratusan ekor kepiting bakau Dabo Ambon, dilepas oleh Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Denpasar, di areal Ekowisata Wanasari Tuban, Senin (16/3/2015) sore.

Kepiting tersebut dikirim dari Dabo, Ambon dengan menggunakan pesawat trigana menuju Makassar, kemudian diterbangkan dari Makkasar dengan pesawat Garuda GA 621 dan berhasil digagalkan pada Minggu (15/3/2015) malam di Bandara Ngurah Rai.

Ratusan kepiting tersebut tidak dilengkapi dokumen yang dipersyarakatkan dari balai karantina ikan dan menyalahi ketentuan aturan, karena dalam kondisi sedang bertelur.

“Jumlah total ada 151 ekor, mati 13 ekor‎, betina yang sedang bertelur ada 81 ekor, dan 57 kepiting jantan. Rencananya mau dipasarkan di Propinsi Bali,”terang Kepala ‎Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Denpasar, ‎Habrin Yake.

Kepiting bakau yang dikirim menggunakan pesawat trigana hanya disertai dengan SMU (Surat Muatan Udara) tersebut adalah menyalahi aturan. Dimana yang boleh dilalulintaskan hanya kepiting yang tidak bertelur dan ukurannya diatas 200 gram.

Berdasarkan Permen I tahun 2014 dan terkait UU Karantina tahun 1992, ratusan kepiting tersebut tidak dilengkapi dokumen dan sebagian kepiting bertelur.  ‎”Ini harus dilepas kealam dan habitatnya. Dari penuturan oknum penerima, dirinya mengaku tidak tahu bahwa kepiting tersebut bertelur dan tidak ada dokumen kelengkapan,”terang Habrin.

Sementara itu kepala Balai Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut Denpasar‎, Ikram M Sangadji mengatakan, karena habitat kepiting mangrove tersebut adalah lingkungan berlumpur‎ dan berlokasi dihutan mangrove. Maka dilepaslah kepiting tersebut dikawasan hutan mangrove Wanasari Tuban.

Dimana kelompok nelayan tersebut dikenal juga sebagai sentra kelompok pembudidaya dan pembibitan kepiting bakau.

‎”Harapan kami agar kepiting ini bisa dikembangbiakkan dan mendukung proses regenerasi serta bisa dimanfaatkan masyarakat. Kami hanya ingin apa yang dilakukan balai karantina bisa dikembalikan kehabitat dan ekosistemnya,”‎ucap Ikram. (SB-ijo)

Comments

comments