Rabies di Bali (3) | Gubernur Pastika Tantang LSM Ikut Tangkap Anjing dan Pelihara

240

SULUH BALI, Denpasar – Gubernur Bali Made Mangku Pastika menantang lembaga swadaya masyarakat yang mengklaim diri sebagai penyayang binatang di daerah pariwisata ini agar turut menangkap anjing dan memeliharanya untuk menekan penyebaran virus rabies.

“Kalau mau, sudahlah jangan banyak omong, bantu kami, tangkap anjing yang berkeliaran, vaksin, dan dipelihara,” kata Pastika usai menghadiri sidang paripurna DPRD Bali, di Denpasar, Senin (27 Juli 2015).

Pernyataan itu disampaikan Pastika terkait dengan banyaknya protes dari kalangan luar negeri dan LSM karena keputusan untuk mengeliminasi anjing liar telah diambil Pemprov Bali untuk menekan meluasnya penyebaran virus rabies.

“Kita berusaha memvaksin anjingnya tetapi tidak gampang untuk menangkapnya. Oleh karena itu, langkah yang menurut saya paling efektif adalah eliminasi,” ujarnya.

Tetapi, kata Pastika, dalam mengeliminasi anjing itu tetap harus mengindahkan norma-norma yang ada.

Menurut dia, banyaknya protes dari pihak-pihak di luar negeri, karena mereka menggunakan ukuran di Eropa. Padahal di sana kondisinya jauh berbeda dengan di Bali karena disana tidak ada anjing yang berkeliaran dan semuanya dipelihara dengan baik dan divaksin.

Sedangkan di Bali, diprediksi total populasi anjing sekitar 500 ribu ekor, namun yang dipelihara dengan baik hanya kisaran 100 ribu ekor.

Selain itu, ucap Pastika, biaya untuk mengobati satu gigitan anjing pada manusia juga cukup tinggi yakni hampir Rp1 juta untuk memberikan empat kali suntikan vaksin antirabies (VAR) dan suntikan anti-tetanus dengan jumlah gigitan anjing perhari rata-rata 125 gigitan. Di samping itu, Biofarma selaku produsen VAR juga memproduksi secara terbatas.

“Memang tidak mudah menanggulangi rabies, bukan saya mencari alasan, tetapi harus ditanggulangi karena nyawa manusia lebih berharga daripada nyawa anjing itu,” ujarnya.

Pihaknya menyayangkan LSM di Bali juga ikut-ikutan protes dengan kebijakan eliminasi itu, tanpa mau melihat berbagai permasalahan yang ada.

“Mereka tidak pernah memikirkan itu, semua orang sayang sama binatang, tetapi saya kira kita harus lebih sayang pada nyawa manusia. Saya juga tidak tega anjing harus dieliminasi seperti itu, tetapi apa boleh buat kita harus lebih sayang pada nyawa manusia,” kata Pastika. (SB-ant)

Comments

comments