Rabies di Bali (1) | Tahun 2008-2015 Sebanyak 159 Orang Tewas

988

Salah seorang peserta diskusi dari BAWA sedang memberi pendapat (foto raka).

SULUH BALI, Denpasar – Bali yang selama beberapa dekade tidak pernah mengalami masalah rabies, namun kini perlahan telah mengalami keresahan atas maraknya kasus-kasus rabies. Mulai tahun 2008 sampai tahun 2015 kasus gigitan anjing rabies cendrung, bahkan terus-menerus meningkat hingga menimbulkan adanya korban meninggal dunia.

Membahas masalah tersebut Pemerintah Provinsi Bali melalui Biro Humas Pemprov Bali menggelar acara sarasehan yang betemakan “Selamatkan Bali Dari Rabies” di Warung Tresni, Renon, Kamis (23/7/2015).

Acara yang dihadiri oleh unsur pemerintah Provinsi Bali seperti Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Kesehatan, Ketua Komisi I DPRD Bali, unsur akademisi Unud, Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali, LSM pencinta binatang seperti Yayasan Yudistira, Bali Animal Welfare Assosiation (BAWA) pengamat sosial, pimred media, serta masyarakat umum dengan menghadirkan Iwan Darmawan sebagai moderator.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali Drh. I Ketut Gede Nata Kesuma,MMA membeberkan data kemunculan kasus rabies yang dimulai sejak tahun 2008 dimana munculnya 7 kasus, tahun 2009 muncul 81 kasus, tahun 2010 muncul 444 kasus, tahun 2011 muncul 90 kasus, tahun 2012 muncul 121 kasus, tahun 2014 muncul 44 kasus dan tahun 2015 muncul 290 kasus.

nata
Drh. I Ketut Gede Nata Kesuma,MMA (foto raka)

Sementara dari Tabel Data Dinas Kesehatan Privinsi Bali, Korban meninggal karena gigitan anjing Rabies di Bali pun cukup mencengangkan dimana pada tahun 2008 ditemukan 4 orang meninggal, tahun 2009 ditemukan 28 orang meninggal, 2010 ditemukan 82 orang meninggal, tahun 2011 ditemukan 23 orang meninggal, 2012 ditemukan 8 orang meninggal tahun 2013 ditemukan 1 orang meninggal, tahun 2014 ditemukan 2 orang meninggal dan untuk tahun 2015 per bulan Juli sudah ditemukan 1 orang meninggal sehingga total jumlah korban meninggal karena rabies dari kurun waktu tahun 2008-2015 adalah 159 orang.

Menanggapi masalah yang sangat pelik terkait dengan rabies ini Pemerintah Provinsi Bali tidak tinggal diam. Program-program pengendalian bebas rabies terus digalakan oleh Pemprov Bali guna mengatasi masalah ini. “Pemerintah Provinsi mulai tahun 2010 ada pengendalian rabies secara masal,” ungkap Drh. Nata Kesuma.

Namun meskipun penanggulangan semakin gencar dilakukan masih saja kasus ini mengalami tren meningkat dari tahun ketahun. Salah satu kendala yang dialami adalah adanya kesulitan terkait eleminasi anjing liar di lapangan. Melihat fenomena itu ia berharap masalah eliminasi penanggulangan kasus rabies tidak melenceng kemana-mana dan harus dikomunikasikan dengan baik di masyarakat.

“Mohon kepada kita semua untuk komunikasikan masalah ini agar tidak bias,” imbuhnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya menyatakan bahwa kasus rabies tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah hanya melalui eliminasi anjing saja. Hal yang lebih penting dilakukan menurutnya adalah pencegahan penularan anjing rabies melalui peran serta masyarakat, agar anjing tidak tertulari virus rabies.

” Sebanyak apapun VAR disediakan tidak akan cukup jika di hulunya (peran serta masyarakat) masih bermasalah,” ungkapnya. (SB-Su)

Comments

comments