Putu Bonuz di Santrian Gallery, Mengenang Tanah Kelahiran

0
172
Putu Bonuz dan musisi Indra Lesmana di depan lukisannya saat pembukaan pameran di Santrian Gallery (foto ist).

SULUH BALI, Denpasar — Tanah kelahiran seringkali menerbitkan banyak kisah dan kenangan. Ada kenangan indah, ada pula kenangan sedih. Kenangan indah tentu membangkitkan kerinduan. Sedangkan kenangan sedih pasti ingin segera dilupakan. Namun, bagi seniman, kenangan indah maupun sedih selalu bermakna dan menjadi energi kreatif untuk dituangkan dalam bentuk karya seni.

Putu Sudiana alias Bonuz termasuk seniman yang mencintai kenangan kampung halamannya, Nusa Penida.  Memilih hidup sebagai seniman dengan identitas dalam berkarya berbanding selaras mencintai daerah tempat lahir sejalan dalan berkesenian. Bonuz tergila-gila kenangan pulau Nusa Penida yang diimplentasikan dalam pameran tunggal yang bertajuk A Land To Remember yang bertempat di Santrian Gallery, Sanur.  Pameran dibuka oleh Ida Bagus Gde Sidharta Putra, Jumat (2/3/2018).

Menurut  Wayan Jengki Sunarta yang menulis pengantar pameran ini saat jumpa pers di Santrian Gallery, Kamis (1/3) menjelaskan, kenangan pada masa kanak-kanak seorang perupa Bonuz yang begitu getir. Perjalanan berkesenian hingga mencapai puncak kesuksesan tak terlepas dari tanah kelahirannya. Pergolakan hidupnya yang menarik dikupas dalam karya, meski dalam tatanan hidup serba kesederhanan. Semangat bergelora berkeinginan besar menjadi seorang seniman meski seperti karang-karang terjal dan ganas berpadu cuaca ekstrem.

Tentu saja perubahan yang terjadi di Nusa Penida berdampak pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, goncangan-goncangan sosial-budaya pun tak bisa dihindari. Dan, di sisi lain, kerusakan alam sangat terasa, bataran (pematang ladang) dikeruk, pohon-pohon tua ditebang, rumah-rumah khas Nusa Penida diganti baru.

Kenangan masa kanak dan kegelisahan Bonuz menyaksikan perubahan yang terjadi di tanah kelahirannya kemudian menjadi energi kreatif yang diungkapkannya lewat lukisan-lukisan bercorak abstrak. Komposisi lukisannya cenderung dinamis dan mengandung luapan emosi yang sangat kuat. Hal itu bisa dicermati pada guratan-guratan garis ataupun sapuan warna  ekspresif yang mewakili kegelisahan batinnya menyaksikan pembangunan yang tidak memedulikan alam.

“Warna-warna gelap adalah ungkapan pemberontakan alam bawah sadar saya menyaksikan berbagai hal yang bertentangan dengan hati kecil. Ketika kesal dan kecewa tidak bisa disampaikan lewat kata-kata, maka garis dan warna menjadi pilihan saya,” ujar I Putu Bonuz Sudiana.

Bonuz tidak anti perubahan tapi,  senang melihat kemajuan yang terjadi di tanah kelahirannya. Namun di sisi lain kemajuan itu juga membuatnya khawatir. Rumah-rumah khas Nusa Penida di masa kanaknya sering hadir dalam mimpinya. Hal itu membuat batinnya seringkali berontak menyaksikan pembangunan yang mengorbankan atau menghancurkan alam. “Seharusnya pembangunan ramah lingkungan, atau mampu menciptakan suatu keharmonisan dengan alam,” ujar perupa asal Banjar Majuh kauh, Dusun Batumulapan,  Nusa Penida.

Bonuz memang seniman yang mampu bergaul dengan siapa pun. Dia tidak mau mengotakkan diri sebagai pelukis saja. Justru dengan pergaulannya yang luas dia menyerap banyak energi kreatif dan sekaligus mengapresiasi berbagai jenis seni.

Sejak lama Bonuz menyadari bahwa seni bukan hanya melukis. Ada banyak seni lain yang juga layak diapresiasi demi meningkatkan wawasan berkesenian. “Atas dasar kesadaran itulah saya bergaul dengan semua sekte seni,” pungkasnya.

Kehidupan Bonuz yang unik dan eksentrik menarik minat Ida Bagus Hari Kayana Putra alias Gus Hari. Sutradara muda itu membuat film yang berkisah tentang sekelumit kehidupan Bonuz dan proses kreatifnya menapaki jalan kesenian. Film semi biografi berjudul “Napak Pertiwi” itu hampir selesai digarap. Trailer dan teasernya bisa dinikmati pada saat pembukaan pameran lukisan ini. (Santana ja Dewa)

Comments

comments