Prosesi Ngaben melewati pantai Kuta. (foto Ijo)

SULUHBALI.CO Mangupura – Upacara Pelebon merupakan bentuk penghormatan dari keluarga dan masyarakat setempat terhadap mendiang. Upacara yang dikenal secara umum sebagai ngaben ini merupakan serangkaian prosesi yang berlangsung sejak seorang meninggal, membakar jenazah, sampai prosesi penghanyutan abu jenazah ke laut.

Tujuan dari upacara Pelebon ini adalah untuk mengembalikan unsur-unsur Panca Maha Butha ( lima unsur alam semesta yang membentuk kehidupan ) yang ada di dalam diri manusia.

ngaben2
Lembu sebagai tempat pembakaran jenazah almarhum. (foto Ijo)

Seperti yang dilakukan Puri Satya Dalem Kaleran, Kuta yang menggelar prosesi Ngaben  Dewa Ayu Made Rangge seorang  pelingsir Puri yang merupakan Bibi dari Dewa Putu Ngurah yang telah meninggal sejak 28 Maret sebelum Nyepi.

Puri Dalem Kaleran Kuta, sendiri merupakan Keturunan dari Raja Kali Anget. Salah satu keluarga dari Puri Dalem Kaleran Kuta, Dewa Putu Ngurah mengakui biaya untuk  Ngaben Utama ini relatif, “Kira-kira kami menghabiskan dana untuk upacara ini hingga Rp.300 juta,” ungkapnya, saat ditemui di Setra Kuta, Kamis (10/4/2014).

Bale Bade (semacam angkutan yang berbentuk menara untuk membawa jenasah), Lembu ( boneka sapi, biasa dinaiki oleh kerabat terdekat), Ogoh-ogoh Cupak, Balai Pemuspan Putih Putih ( sama seperti bade tetapi hanya untuk membawa sesajian untuk upacara) berada di depan iring-iringan yang merupakan bagian dari prosesi ngaben.

Kelompok pengungsung Bade, Balai Pemuspan dan lembu yang digunakan untuk membakar jenasah berjalan mulai dari depan monument Ground Zero menuju  menuju Setra (kuburan) yang terletak di area belakang Pasar Seni Kuta sekitar pukul 13.00 wita.

ngaben3
BAris Ketekok Jago. (foto Ijo)

Iring-iringan tiba di Setra sekitar pukul 14.00 siang, jenazah dipindahkan dari bade menuju ke dalam lembu. Selanjutnya lembu serta jenazah yang ada di dalamnya dibakar hingga menjadi abu. Sisa – sisa tulang dan abunya dibersihkan dan diatur kembali di atas kain kasa seperti bentuk manusia lagi, baru setelahnya dihanyutkan ke laut

Prosesi ngaben dari Puri maupun dari masyarakat Hindu Bali pada umumnya tidak ada perbedaan, semua itu tergantung kemampuan yang melakukan upacara ngaben. Prosesi ngaben sendiri ada 3 jenis upacara, yakni, Nista, Madya, dan Utama. “Itu artinya kalau yang nista itu tingkat paling bawah, madya itu menengah, dan utama itu paling tinggi. Dan ini prosesi ngaben tingkat utama, dan tidak selamanya dari Puri itu harus ngaben secara utama, kembali lagi tergantung dari kemampuan diri sendiri,” papar Dewa.

Selama prosesi upacara ngaben ini diisi dengan tarian Baris Tekok Jegoh. yang memiliki Tujuan untuk menghantarkan roh beliau yang udah meninggal untuk sampai ke sorga. Tari-tarian ini sudah merupakan tradisi dari Puri Dalem Kaleran Kuta. (SB-IJO)

video-gustiar

Comments

comments