Prof. Rhenald Kasali : Tradisi Akan Ditinggal, Bila Masyarakatnya Tak Sejahtera ( bagian 2 )

495
Prof. Rhenald Kasali (foto Rka).
Back

1. Emas Pulau Buru

Sebetulnya untuk apa sih kita melakukan pembangunan? Untuk apa sih kita bekerja keras ? Untuk apa kita menyekolahkan anak-anak kita ? Akhirnya sebetulnya adalah untuk happiness, kebahagiaan. Demikian diungkapkan oleh Prof. Rhenald Kasali pada dialog terbuka dengan tema : “Mau Kemana Kita. Antara Perubahan dan Tradisi,” di Gedung Ksirarnawa, Art Center, Sabtu (23/4/2016).

Hanya saja menurutnya, seringkali perdebatan, keributan, ketidakadilan terjadi hanya karena masyarakat hanya mampu melihat dari satu sisi.

Kemudian ia ceritakan yang ia lihat dan amati apa yang terjadi di Pulau Buru. Pulau Buru mempunyai potensi sama seperti Pulau Bali. Pulaunya cantik, indah, alamnya bagus bahkan disitu Tuhan memberikan alam yang begitu kaya. Sehingga menjadi satu-satunya tempat dimana ada tanaman yang tumbuh, tidak banyak di tempat lain tetapi menjadi pasokan 90 persen minyak kayu putih Indonesia. Tidak ditanam, tumbuh dari akar-akar, dan tumbuh lagi.

Ia jelaskan, masyarakat disana juga mempunyai tradisi yang sama seperti di Bali. “Disana juga warganya memakai kayak udeng di Bali. Bagus sekali. Tetapi tidak seindah seperti di Pulau Bali. Kenapa ? Ekonominya nggak ada, miskin, sangat miskin. Lama-lama mereka gali itu bukit disana tempat dimana kayu putih itu tumbuh, akhirnya didapat emas,” jelasnya.

Diceritakan, karena orang-orang di Pulau Buru tidak mengerti menambang emas, diberitahukan kepada saudara-saudara temannya. Datanglah rombongan dari Manado, yang dulu satu tempat kerja di perusahaan tambang emas disana.  Datang bukan cuma satu orang, tapi ribuan orang datang ke Pulau Buru. Kemudian datang lagi berikutnya rombongan dari Sulawesi Selatan, tak lama datang lagi para cukong dari Tasikmalaya yang biasa menambang emas. Dari Bogor juga datang.

“Harga beras tiba-tiba melonjak naik, pertanian tiba-tiba ditinggalkan. Air raksa tiba-tiba dibuang ke sungai. Masyarakat kembali lagi hidup miskin disana. Saudara-saudara sekalian, adat yang tidak didukung dengan ekonomi yang berkelanjutan, berkesinambungan akan mengakibatkan kemiskinan dan akhirnya tidak ada yang menjalankan kegiatan adat. Susah, itu sudah terjadi disana. Silahkan datang sendiri kesana,” papar penulis beberapa buku manajemen ini yang ngaku betah tinggal di Ubud kalau dirinya datang ke Bali.

Back