“Poleng” Warna Identitas dan Aura Spiritual

1018
Ilustrasi

SULUH BALI, DenpasarPoleng telah menjadi identitas Bali dan telah menjadi ciri khas Bali. Poleng merupakan corak motif kotak-kotak yang terdiri dari gabungan dua warna yakni hitam dan putih.

Kombinasi dari dua warna ini umum dituangkan ke dalam sebuah kain yang kemudian digunakan dalam berbagai keperluan ritual serta dalam kegiatan sehari-hari.

Penggunaannya dalam upacara keagamaan digunakan sebagai warna tedung, lelontek, kober, wastra dan kampuh pelinggih dan lain-lain. Kain poleng juga banyak digunakan di pelinggih-pelinggih yang ada di pinggir jalan, batu besar, pohon besar dan tempat-tempat yang dipandang angker.

Penggunaan kain poleng juga sudah berkembang tidak hanya sebagai dimensi sakral, namun juga sudah merambah mode-mode. Diantaranya digunakan sebagai model pakian, baju, celana, kain kamen, saput dan kepentingan profane lainnya.

Kain poleng terdiri dari tiga bentuk yakni kain poleng rwa bhineda, poleng sudamala dan poleng tri datu.

Poleng rwa bhineda seperti namanya dua yang berbeda kain poleng yang terdiri atas dua warna yakni hitam dan putih. Melambangkan konsep hitam dan putih sebagai dua kekuatan yang berbeda namun tetap berada pada satu tempat sebagai simbol keselarasan dan tunggal.

Poleng sudamala seperti arti makna kata, suda berarti bersih dan mala berarti kotor yang kemudian berarti membersihkan segala kekotoran. Poleng sudamala adalah warna hitam dan putih dan kemudian tersisip warna abu-abu yang merupakan gabungan dari hitam dan putih simbol keseimbangan.

Poleng tri datu sesuai dengan namanya, tri berarti tiga serta datu berarti warna yang mana poleng tri datu memiliki tiga warna yakni merah, hitam dan putih yang berarti tiga kekuatan dalam agama Hindu disebut dengan tri murti sebagai kekuatan pencipta, pemelihara dan pelebur (Brahma, Wisnu, Siwa). (SB-Skb)

Comments

comments