Podium Bebas Bicara | Yang Tolak dan Setuju Reklamasi Satu Panggung

280

Aktivis lingkungan tolak reklamasi Teluk Benoa Intan sedang dialog di atas podium dengan Ranten yang setuju reklamasi Teluk Benoa (foto humas/Bali.)

SULUH BALI, Denpasar — Setelah secara resmi dibuka oleh Gubernur Bali pada tanggal 2 November 2014, ruang curhat yangdisediakan oleh Pemprov Bali berupa Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) yang terletak di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar cukup menyedot perhatian masyarakat.

Hal ini terlihat di minggu ke-2 (9/11), masyarakat yang hadir untuk menyampaikan unek-uneknya cukup banyak yang mendaftar ke stand panitia. PB3AS yang merupakan ruang bicara bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan unek-uneknya ini dibuka lebih awal yakni pukul 07.00 WITA hingga 09.30 wita.

Setiap orang diberikan kesempatan waktu 15 menit untuk berbicara yang disaksikan langsung oleh Gubernur Pastika yang didampingi Ny. Ayu Pastika. Di kali kedua ini sebanyak 12 orang orang yang ingin mengungkapkan aspirasinya, mereka terdiri dari tokoh masyarakat, mahasiswa, supir serta aktivis lingkungan.

Permasalahan yang banyak disampaikan pada PB3AS minggu ini mayoritas terkait isu revitalisasi teluk benoa. Salah satunya yang disampaikan oleh Lanang Sudira, ia sangat menyayangkan atas demo-demo ataupun spanduk yang selama ini berusaha untuk mempengaruhi masyarakat untuk menolak rencana pemerintah untuk merevitalisasi Teluk Benoa agar menjadi lebih indah, dalam podium tersebut ia mengajak masyarakat yang hadir untuk terlebih dahulu mempelajari serta mengetahui dampak positif dari revitalisasi teluk benoa karena menurutnya yang seharusnya didemo adalah keberadaan hotel Mulia yang sudah mencemari kesucian Pura Geger di Nusa Dua.

Berbeda dengan Lanang, seorang mahasiswi bernama Intan Paramitha dalam podium menolak revitalisasi Teluk Benoa tersebut. Intan yang dikenal sebagai aktivis lingkungan ini menyampaikan bahwa revitalisasi tersebut justru akan membuat Bali hancur dimasa depan, karena akan menyebabkan abrasi di sepanjang pantai selatan dan banjir dimana mana. Pada saat Intan bicara, seorang aktivis pro reklamasi bernama Ranten juga naik ke atas panggung dan sempat terjadi dialog diantara keduanya.

ranten
Lanang Sudira setuju Revitalisasi Teluk Benoa (foto humas/Bali).

UU Desa
Selain masalah tersebut, Made Westra yang merupakan mantan Sekkot Denpasar dalam podium menyampaikan harapannya agar pemerintah bersama DPRD membentuk tim kecil terkait polemik UU desa serta dibuatkan inventarisasi masalah untuk dimunculkan ke media sehingga tidak menimbulkan opini terlalu banyak di masyarakat. Sekaligus ini sebagai bahan bagi masyarakat agar mengetahui dampak memilih desa dinas maupun desa adat.

Ada pula ajakan dari ibu Desi dari Singaraja yang bekerja di Yayasan HIV Aids yang bernama Kerti Praja, jalan raya sesetan, Denpasar. Ia mengajak masyarakat mendeteksi lebih dini virus HIV dan bagi masyarakat yang berminat, ia yang merupakan konselor memberikan nomor telepon pribadinya 081916670925 agar masyarakat bisa lebih mudah untuk menghubungi jika berminat untuk melakukan pendeteksian lebih dini terhadap virus berbahaya tersebut.

Karena keterbatasan waktu bagi masyarakat yang berminat kembali diminta menyampaikan permasalahan dan unek-uneknya panitia kembali akan membuka PB3AS di minggu berikutnya sehingga masyarakat bisa lebih leluasa menyampaikan aspirasinya. (SB-ant)

Comments

comments