PKB ke 40 | Legong Binoh Bercirikan Saih Lima

0
904
Penari Legong klasik Binoh dan penabuh gamelan saih lima (foto wan).

SULUH BALI, Denpasar — Kesenian kuno “Palegongan Saih Lima” dari Desa Poh Gading, Kota Denpasar mampu memukau penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 Tahun 2018 di Taman Budaya Bali, Jumat (29/6/2018).

Kesenian kuno “Palengongan Saih Lima” telah dilakukan rekonstruksi oleh Pemerintah Kota Denpasar dalam upaya pelestarian seni budaya yang ada di kota setempat.

Koordinator Sekaa (kelompok) Kesenian Denpasar, I Wayan Sudiana, mengatakan Banjar Binoh merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesenian palegongan di Kota Denpasar. Ia mengatakan ciri khas yang mencolok dari Palegongan Binoh adalah jenis “gamelan saih lima” dengan gantungan rotan di setiap ujung gamelan. “Kalau masyarakat melihat ‘gamelan saih lima’ dengan gantungan rotan itu pasti dari Binoh dan gamelannya juga telah berusia sangat tua,” ujarnya.

Terkait dengan persiapan, walaupun materi yang dibawakan sebanyak empat tabuh dan tari, pihaknya mengatakan diperlukan rasa dalam membawakan kesenian dengan ciri khas tertentu.

“Memahami rasa dalam membawakan tabuh inilah yang cukup lama, termasuk menyesuaian antara tabuh dan suara gerong. Kalau hanya menabuh saja, saya rasa sudah jauh-jauh hari siap, tapi kami berupaya mampu menampilkan kesenian yang bisa memberikan kesan khas sebagaimana yang diketahui masyarakat tentang Palegongan Binoh, baik itu ‘koteknya, gedignya, dan pakem-pakem,” katanya.

Sementara itu, tokoh seni Sekaa Palegongan Binoh, I Made Djesna Winada, mengatakan penampilan tabuh tersebut merupakan regenerasi “Palegongan Binoh”, Banjar Binoh Kaja.

Suksesnya penampilan tahun ini tak lepas dari kepedulian dan partisipasi seluruh masyarakat Banjar Binoh Kaja untuk kembali membangkitkan kesenian legong klasik.

Djesna mengatakan keberadaan seni palegongan yang kini telah memasuki regenarasi ketiga ini telah berhasil merekontruksi berbagai kesenian palegongan dengan pakem khas Binoh.

Beberapa diantaranya seperti Tabuh Gegambangan dan Kebyat-Kebyut yang merupakan karya maestro palegongan I Wayan Lotring. “Kami di Binoh mempunyai pakem palegongan tersendiri dengan gamelan saih lima, selain itu, Binoh juga merupakan salah satu desa yang memiliki kesenian legong yang khas di Kota Denpasar,” tutur Djesna.

Seorang penabuh Satria Wicaksana mengaku bangga dapat turut andil dalam melestarikan kesenian khas di Banjar Binoh Kaja. Sebagai generasi muda tentu pihaknya berharap semakin banyak anak-anak yang mau melestarikan legong. “Saya senang dapat menjadi bagian pelestarian seni di Banjar Binoh Kaja yang merupakan kesenian palegongan khas di Kota Denpasar,” katanya. (SB-ant)

Comments

comments