Karya kartun Made Arya Dwita Dedok yang dipamerkan.

SULUH BALI, Jogyakarta — Pilkada serentak yang digelar 15 Februari 2017 mendatang disambut sumringah, karena ada kesempatan untuk masyarakat memilih pemimpin lima tahun mendatang. Adu program menyakinkan pemilih dilancarkan paslon, juga berbagai stategi jitu menarik simpati. Jelang detik-detik pencoblosan obrolan dimana-mana membicarakan pilkada tak terkecuali kartunis.

Melihat perhelatan demokrasi kartunis melihat pesta rakyat sebagai pembelajaran demokrasi, implementasi momen ini, kartunis mencurahkan imajinasi melalui karya-karyanya. Isu korupsi mencuat jadi sebuah tema yang masih subur dilakukan para oknum-oknum yang gelab mata.

Sudut pandang kartunis melihat korupsi yang sangat merugikan negara dan masih saja praktek-praktek hitam masih sulit dibrangus. Pilkada serentak momentum memberikan edukasi bahwa korupsi merusak tatanan negara ini.

Kartunis Made Arya Dwita Dedok melalui karyanya agak menggelitik tentang korupsi. Karya yang memberi semangat kebersamaan dalam melawan dan menangani korupsi, Dedok mengambarkan karyanya berupa kalaborasi superhero bersama-sama melawan “tikus” yang rakus.

Tokoh-tokoh komik, termasuk profil dirinya yang dikomikkan dengan mengenakan kostum Gatot Kaca. Tokoh-tokoh komik dan dirinya berderet dengan saling berpegangan tangan sebagai pengusung barong lambang kebaikan dan keadilan.

“Melalui judul maupun visualisasi karya menjadi mengerti bahwa korupsi harus dilawan secara bersama-sama dan setiap orang harus berani mengatakan tidak untuk korupsi,” kata Dedok yang tergabung dalam Peguyuhan Kartunis Jogjakarta (Pakyo).

Dedok yang juga sebagai perupa asal Bali, bersama kartunis lainya menggelar pemeran bersama yang bertajuk Kartunistimewa bertempat Bentara Budaya Jogjakarta, Sabtu (11/2). Pemeran lintas generasi kartunis ikut berpartisipasi meramaikan pemeran, selain tema pilkada juga tema-tema ilwal diangkat dipermukaan yang sedang ramai dibicarakan.

Seperti karya Grace Tjondronimpuno merajut kebersamaan kebhinekaan dikenal sejak dini. Layaknya seorang ibu itu sedang berjalan, mengendong belasan anak-anaknya. Tangan kanannya memegangi jarik lurik yang mengikat gendongan rinjing, di tangan kirinya membawa tongkat bambu berbendera merah putih. Ribuan kilo meter jalan yang telah ia tempuh, membentangkan beban tiada terkira.Satu karya rupa kedamaian Indonesia yang disimbolkan kartun.

“Perenungan terhadap realita kekinian. Saya mengajak pembaca dan penikmat karyanya untuk tidak tegang lebih awal melihat sebuah persoalan. Namun sebetulnya, ini adalah cara halus menyeret rasa kepedulian elemen anak bangsa kembali untuk mencintai tanah airnya,” ucap Grace.(*)

 

Oleh : Santana Ja Dewa 

 

Comments

comments

Comments are closed.