Petani Panen Jagung Muda Saat Kemarau

SULUH BALI, Badung- Petani Subak Mambal, Kabupaten Badung, Bali, pada musim kemarau ini lebih memilih memanen jagung muda untuk konsumsi rebus maupun bakar, karena cepat laku ke pasaran, disamping menekan kerugian akibat kesulitan pengairan.

“Kami lebih senang memanen jagung muda karena sudah ada pembeli yang datang menggunakan truk untuk dijadikan jagung rebus dan bakar. Tentu dengan harga yang lebih mahal,” kata Made Sudira, salah satu petani di Subak Mambal, Badung, Sabtu (8/11/2014).

Ia mengatakan, pada musim kemarau kali ini tidak banyak rekannya yang menanam jagung, karena ratusan hektare areal sawah yang ada di subak tersebut ditanami beraneka ragam palawija seperti semangka, termasuk bunga yang dinilai menguntungkan oleh petani setempat.

Areal penanaman jagung memang berkurang kali ini akibat petani khawatir karena tidak pernah turun hujan sehingga tidak bisa menghasilkan, kata Sudira sambil menunjukkan hamparan sawah yang ditanami palawija, namun sedikit tanaman jagung.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, Panusunan Siregar dalam keterangan persnya menyebutkan, bahwa produksi jagung selama tahun 2014 diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 24,80 persen atau sebanyak 14.276 ton pipilan kering.

Perkiraan penurunan produksi ini disebabkan terjadinya pengurangan luas panen sebesar 9,30 persen atau berkurang seluas 1.696 hektare selama 2014 serta penurunan produktivitas sebesar 17,07 persen (turun 5,39 kw/ha).

Perkiraan penurunan luas panen sebagai akibat semakin menurunnya lahan tanam jagung karena beralih ke tanaman kehutanan seperti di Kubu, Kabupaten Karangasem dan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung juga ada yang beralih ke tanaman hortikultura seperti tanaman jeruk.

Disamping itu petani di Kabupaten Bangli dan Gianyar banyak mengubah lahannya untuk ditanami cabai yang memiliki harga jual lebih menjanjikan seperti sekarang ini, sehingga mengakibatkan produksi jagung berkurang.

Ia juga membenarkan bahwa petani di Badung dan Klungkung banyak memanen jagungnya dalam usia muda guna memenuhi permintaan pasar terutama kepada pedagang jagung rebus dan jagung bakar di pinggir jalan maupun swalayan. (SB-ant)

Comments

comments