Pesan Tokoh dan Jenderal | Waspada, Jangan Sampai Ormas Disusupi Paham Radikal

2930
Jero Gede Suwena Putus Upadesha (kiri), dan Wakapolda Bali Brigjen Pol. Drs. I Nyoman Suryasta. |foto-rka|

SULUH BALI, Denpasar – Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia dan ekonomi Bali sangat ditunjang oleh pariwisata. Tulang punggung pariwisata adalah adanya jaminan keamanan.

Selama ini semua komponen, pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat adat sudah berhasil membentengi Bali, menjaga situasi aman setelah sempat diguncang akibat terjadi ledakkan bom Bali pada tahun 2002 dan 2005. Namun tokoh dan jenderal ini minta agar waspada terhadap aksi-aksi kekerasan sebagai tindakan radikal,  yang bisa saja menyusup dari dalam, termasuk ke dalam ormas.

“Tindakan-tindakan yang dalam bentuk kekerasan itu adalah tindakan radikal. Mari kita cermati itu, apakah paham itu sudah masuk di tataran grass root masyarakat kita? Bisa jadi, secara fisik kelompok teroris ini tidak bisa masuk. Karena apa, karena ketat pengamanannya dari aparat, dari masyarakat adat dan lain sebagainya.

Bahu-membahu komponen masyarakat di Bali untuk menjaga Bali agar tidak sampai terjadi lagi terulang kejadian bom 2002 dan 2005. Tapi bisa jadi polanya berubah dengan cara masuk dalam paham radikal itu. Coba kita cermati ini.

Saya mengajak masyarakat Bali khususnya untuk mencermati ini. Saya ini orang Bali, saya akan mati di Bali juga. Tentu saya menginginkan juga, Bali ini aman, tenteram masyarakatnya, pembangunannya bagus,” demikian pesan sekaligus warning yang disampaikan Wakapolda Bali Brigjen Pol. Drs. I Nyoman Suryasta, di Mapolda Bali, Jumat (18/12/2015)

Ini Ibarat Bhutakala Ngurek Rage

Kewaspadaan dan peringatan tersebut  juga disampaikan oleh Ketua Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Provinsi Bali, Jero Gede Suwena Putus Upadesha.  “Saya sebagai ketua adat di Bali. Saya merasa jengah, sedih dan malu atas kejadian kemarin. Dari perspektif adat, kita tidak lepas-lepasnya menyelenggarakan upacara yadnya, dalam mengimplementasikan konsep tri hita karana.

Bagaimana menyeimbangkan buthakala untuk menjadi dewa. Tapi kenapa buthakala ini bergentayangan terus yang merasuk ke hati sanubari saudara-saudara kita yang melakukan perbuatan seperti kemarin? Apakah kita tidak malu sebagai warga Bali ? Ini ibaratnya Bhutakala yang Ngurek Rage,” tegas Ketua MUDP Bali yang juga pensiunan perwira polisi berpangkat Kombes ini.

“Apakah tidak ada faktor-faktor lain diluar kita yang sementara ini terkait dengan yang namanya ISIS yang dengan cara seperti ini menghasut masuk ke dalam hati sanubari saudara-saudara kita untuk berantem dengan sesama warga.

ISIS ini bisa merasuk kepada siapa saja yang bisa dirasuki. Terlebih-lebih lagi kalau kita ingat kembali dengan peristiwa bom 2002 dan 2005, kita sudah dicoba dan akan selalu dicoba, kenapa kita tidak sadar ?” tambahnya sambil mengajak semua pihak untuk senantiasa waspada dan merenung atas situasi sekarang ini. (SB-Rk)

Comments

comments