Ketua PPIT Bali Cahaya Wirawan Hadi, Agus Maha Usadha dan Perupa saat Jumpa Pers. (foto-rk)

SULUH BALI, Denpasar – Sembilan perupa Bali akan memamerkan karya-karya mereka di Beijing, China. Mereka adalah Djaja Tjandrakirana, Chusin  Setiadikara, Wayan Redika, Agung Mangu Putra, Wayan Sujana Suklu, Made Wiradana, Polenk Rediasa, I Made Gunawan dan Putu Edy Asmara.

Mereka akan memboyong tak kurang dari 40 karya untuk dipajang di dua gallery di kota yang berbeda. Dengan reputasi masing-masing, mereka yang sebelumnya sudah pernah menggelar karyanya di daratan Tiongkok itu, akan bergabung dengan sejumlah seniman China untuk memamerkan karyanya dengan mengusung tema “From Bali to Beijing”.

“Ini sebagai langkah untuk menjalin hubungan bagi kedua negara terutama bidang kebudayaan. Kita harapkan ke depannya akan terjalin kerjasma yang berkelanjutan. Seperti kerjasama bidang pendidikan lintas fakultas seni rupa. Termasuk nantinya gathering bagi para seniman kedua negara,” ungkap Agus Maha Usadha,  dalam jumpa pers di Hang Out, Jalan Merdeka, Renon, Selasa (21/11/2017).

Agus Maha Usadha yang ikut mendampingi para perupa Bali itu menambahkan, karena kesibukan, sebagian perupa tidak bisa hadir dalam pameran di China itu. Perupa yang akan berangkat 24 Nopember dan kembali pada 2 Desember 2017 nanti hanya lima orang. Yakni Djaja Tjandrakirana, Chusin Setiadikara, Wayan Redika, Made Wiradana dan Polenk Rediasa.

Hadir saat jumpa pers itu, Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok (PPIT) Provinsi Bali, Cahaya Wirawan Hadi. Dia menyampaikan terima kasih dan apresiasinya kepada para perupa Bali yang akan berpameran di daratan Tiongkok. Karena hal tersebut dinilai sebagai langkah untuk semakin mempererat jalinan kerjasama bagi kedua negara terutama bidang kebudayaan.

Dijelaskan juga, keberangkatan perupa Bali untuk berpameran di China ini atas kerjasama Konjen RRT dan PPIT Provinsi Bali sekaligus undangan pihak Beijing Fine Art Academy yang sebelumnya sempat datang ke Bali. Mereka sangat tertarik menyaksikan adanya akulturasi budaya China dan Bali.

Menurut salah seorang perupa Wayan Redika, penanda akulturasi kebudayaan China dan Bali terlampau mudah ditemukan di Bali. Kesenian Barong menurutnya merupakan hasil dari proses cipta yang cemerlang melalui komparasi Baraong Sai yang terkenal di dunia. Begitu pula transformasi pola ukiran kuta Mesir China yang dipadu dengan pola ukiran Bali sebelumnya.

Demikian pula dalam seni karawitan semisal baleganjur yang dikenal di Bali sejatinya bernuansa kesenian beri yang gemar ditabuh di daratan China. Di bidang susastra, sejumlah naskah sastra perihal cerita romansa China Bali, salah satu yang sangat terkenal adalah kisah Sampek Ing Tay. (SB-Rk)

Comments

comments