Perselingkuhan Berujung Mutilasi

666

SULUHBALI.CO, Semarapura — Kasus mutilasi di Kabupaten Klungkung dilatarbelakangi perselingkuhan antara korban dan pelaku yang sudah memiliki istri dan anak.

“Antara korban dan pelaku memang punya hubungan asmara,” kata Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Benny Mokalu saat memberikan keterangan pers di Mapolres Klungkung di Semarapura, Senin (24/06/2014).

Tim penyelidikan dan penyidik atas penemuan potongan tubuh korban di Jalan Raya Bukit Jambul, Kabupaten Klungkung, dan Desa Gambelan, Kabupaten Karangasem, Selasa (17/6) di bawah komando Wakil Kepala Polda Bali I Brigadir Jenderal I Gusti Ngurah Raharja Subiyakta membutuhkan waktu sepekan untuk mengungkap kasus itu.

Pelaku bernama Fikri (26) alias Ekik yang tinggal di Banjar Lebah, Desa Semarapura Kelod Kangin, Kabupaten Klungkung, ditangkap petugas di Jalan Darmawangsa, Semarapura, Minggu (22/6) sekitar pukul 19.30 Wita.

Pelaku yang bekerja sebagai sopir di kantor Pengadilan Agama Klungkung sempat mengelak melakukan perbuatan sadis terhadap pacarnya, Diana Sari asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat.

Kemudian korban mengaku membunuh pacarnya di rumah korban di Jalan Kenyeri IX, Semarapura, Senin (16/6) sekitar pukul 10.30 Wita. “Kasus ini 80 persen sudah terungkap. Lebih lanjut tim masih melakukan tes DNA apa benar korbanya adalah yang dimaksud,” ujar Kapolda.

Polisi juga masih mendalami kemungkinan korban dalam kondisi hamil karena pada potongan tubuh korban lainnya yang ditemukan di Jalan Merak, Semarapura, Senin siang, terdapat janin.

“Pangakuan pelaku sempat berubah-ubah. Masih kami dalami terus,” kata Kepala Polres Klungkung Ajun Komisaris Besar Ni Wayan Sri Yudatni Wirawati kepada pers.

Ia juga tidak memberikan keterangan secara detail karena tindakan pelaku sangat sadis dan dikhawatirkan menimbulkan keresahan kepada masyarakat. “Yang jelas pelaku sudah mengakui memutilasi korbannya,” ujarnya.

Pemotongan tubuh korban dilakukan secara bertahap. “Begitu capek dia keluar sambil merokok dan sempat mengobrol dengan buruh bangunan yang bekerja di depan kosnya,” kata Wirawati.

Usai memotong-motong bagian tubuh korban, pelaku langsung membuangnya ke berbagai tempat. “Dari pengakuannya ada 13 tempat pembuangan potongan tubuh tersebut. Namun setelah ditindaklanjuti di beberapa tempat tidak ditemukan potongan,” ujarnya.

Kapolda dan jajarannya sempat mendatangi rumah kos korban yang menjadi tempat pembantaian dan lokasi penemuan potongan tubuh korban.

 
Sama Sama dari Sumbawa

Pelaku dan korban sama-sama berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pelaku pindah ke Bali karena istrinya ingin pulang kampung. Sejak 1 Mei 2014, pelaku bekerja sebagai sopir di Pengadilan Agama Kabupaten Klungkung.

“Dia baru bekerja sejak 1,5 bulan yang lalu,” kata Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Klungkung Drs Muhammad MH.

Menurut dia, sebelum bekerja di PA Klungkung, pelaku bekerja di Yayasan Muhammadiyah di Sumbawa selama empat tahun. Kemudian pulang ke Klungkung atas permintaan istrinya.

Pada saat melakukan mutilasi, Senin (16/6), lanjut Muhammad, pelaku meminta izin tidak bekerja dengan alasan sakit. “Dia sempat bilang izin berobat karena kondisi tidak fit,” ujarnya.

Dua hari berikutnya saat masyarakat digegerkan oleh penemuan potongan tubuh manusia di pinggir Jalan Bukit Jambul, Kabupaten Klungkung, dan Desa Gambelan, Kabupaten Karangasem, pelaku bekerja di PA seperti biasa.

“Selasa (17/6) malam saat diminta mengantarkan ke bandara, dia tidak menjawab. Rabu (18/6) dia sempat mengantar ke Pelabuhan Padangbai. Pada saat itu sama sekali tidak ada hal yang mencurigakan. Dalam keseharianya, dia ceria sekali. Dia juga rajin shalat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa pelaku punya anak yang masih kecil, sedangkan korban masih dalam proses bercerai dengan suaminya.

Pelaku sempat memindahkan barang-barang korban ke rumah kosnya di Banjar Pande, Jumat (20/6). Dari rumah kos pelaku di Banjar Pande, polisi mengamankan beberapa potong pakaian, kipas angin, karpet, tempat sampah, sapu, dan tali plastik.

Di rumah kos korban di Jalan Kenyeri, polisi hanya menemukan pembersih ruangan dan sepasang anting-anting.

Pelaku ditangkap di Jalan Darmawangsa, Semarapura, seusai makan malam, Minggu (22/6) pukul 19.30 Wita setelah polisi mendapat informasi hilangnya anak kos bernama Diana Sari dan bau menyengat di saluran air depan kos korban.

Korban dimutilasi di dalam kamarnya, sedangkan darahnya dicuci dengan air yang mengalir ke selokan bagian depan rumah kos itu.

Polisi juga mengamankan sebilah parang sepanjang 50 centimeter di Jalan Kecubung. Pelaku sempat mengaku membuang sebagian potongan tubuh korban di sungai Tukad Cangkung, Jalan Kecubung. Namun di sungai itu hanya ditemukan sebilah parang.
(SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.