Persaingan Tinggi | Warung Nasi Be Guling Berusaha Terus Eksis

423
Warung pecel lele di depan warung nasi be guling. |foto-raka|

SULUH BALI, Tabanan – Persaingan usaha warung makan nampaknya semakin ketat. Salah satu contohnya adalah di sepanjang jalan raya Denpasar – Gilimanuk. Di jalur yang melewati Tabanan misalnya, hampir di tiap posisi strategis sudah berdiri warung-warung makan. Berbagai jenis makanan ada tersedia, bahkan hampir 24 jam kita tidak sulit mencari bahan pengisi perut ini.

Lebih menarik lagi di Sembung dan Meliling, Kerambitan misalnya ada kekhasan menu yang disediakan warung-warung makan disana. Kalau pagi hingga sore hari, beberapa warung nasi siap dengan menu nasi be guling (babi guling). Untuk nasi be guling satu porsi cukup merogoh kocek Rp 9 ribu. Nasi be guling dihidangkan lengkap dengan kuah atau jukut ares.

Namun begitu menginjak sore hingga tengah malam bahkan sampai pagi, warung-warung dengan menu “be manis” mulai buka. Masing-masing warung seperti sudah kompak untuk berbagi waktu serta rejeki. Menu makanan be manis ini dibuat dari bahan daging babi. Daging babi dibuat menyerupai dendeng. Ada kuah terpisah. Harganya pun Cuma Rp 10 ribu.

Di jalur strategis dan tidak pernah sepi itu, seakan sudah jadi incaran baik warga lokal/penduduk setempat maupun warga pendatang untuk ikut mengais rejeki.

Kini tidak saja warung-warung nasi be guling atau be manis dengan bahan daging babi itu saja yang berjejer. Tapi warung-warung  dengan menu lalapan, pecel lele, nasi goreng, maupun gorengan juga terus tumbuh di tiap lokasi strategis.

Peluang serta lokasi strategis tersebut menjadi kesempatan bagi warga untuk belajar memulai usaha. Begitu pula bagi warga konsumen kini tidak perlu lagi jauh-jauh datang ke pasar senggol di kota untuk keperluan makanan dan hidangan ringan.

Bahkan banyak warga yang selama ini tekun menggeluti usaha warung makan itu, kini sudah terbilang sukses. Di daerah Sembung dan Meliling, Kerambitan itu warung nasi be guling dan nasi be manis terus berkembang dan semakin ramai dikunjungi pembeli. Apalagi berada di pinggir jalan jalur lalu-lintas jurursan Denpasar – Gilimanuk yang tidak pernah sepi. Disini upaya kuliner lokal seperti be guling dan be masih terus berupaya eksis sebagai makanan yang digemari.

Bidang usaha untuk kebutuhan dasar ini memang tidak akan pernah matinya. Hanya saja membutuhkan ketekunan, kualitas pelayanan serta harga yang terjangkau bagi konsumen yang disasar. Itu sudah dibuktikan oleh beberapa warga di Desa Sembung dan Meliling, hingga bisa eksis sebagai daerah yang tersedia banyak warung makan disana. (SB-Raka)

Comments

comments