Pers Kita Sudah Merdeka, Tapi Belum Profesional

0
225
Ketut Sudikerta, Marah Sakti Siregar dan Ketua PWI Cabang Bali saat pembukaan kegiatan Pengingkatan Kompetensi Jurnalis. |foto-rka|

SULUH BALI, Denpasar – Buah dari reformasi salah satunya adalah adanya kemerdekaan pers. Bukan sekedar pers yang bebas, karena bebas saja tidak cukup. Harus ada kemerdekaan dan profesionalisme dalam pers. Hanya saja saat ini pers sudah merdeka, tapi belum professional. Itulah fakta pers di Indonesia sebagai salah satu negara yang telah menganut sistem demokrasi. Terbukti dari ada ribuan pengaduan atau komplain yang ditujukan ke dewan pers oleh masyarakat akibat produk pers kita.

Hal itu disampaikan wartawan senior Marah Sakti Siregar yang kini duduk sebagai Ketua Bidang Pendidikan Ketua PWI Pusat saat memberikan sambutan di acara pembukaan kegiatan “Peningkatan Kompetensi Jurnalis” yang diselenggarakan oleh PWI Cabang Bali kerjasama dengan Biro Humas Setda Provinsi Bali, di Balai Diklat Provinsi Bali, Sabtu (3/9/2015).

Kemudian ia katakan, pakta pers Indonesia yang sudah merdeka namun belum professional itu menurutnya sebagai akibat dari minimnya perhatian pers terhadap peningkatan sumber daya yang dimilikinya. Juga disebabkan oleh kebanyakan wartawan yang tidak berangkat dari basik pendidikan pers atau komunikasi. Kalaupun ada wartawan yang berasal dari basik sekolah jurnalistik atau komunikasi, tapi tidak juga memenuhi harapan. Itu karena kurikulumnya yang belum nyambung dengan kebutuhan media.

“Sekitar 70 persen dari ribuan pengaduan dan komplain masyarakat ke dewan pers adalah menyangkut kode etik. Itulah saya katakan pers kita sudah merdeka, tapi belum professional,” paparnya dihadapan puluhan wartawan dari berbagai media di Bali itu.

Untuk meningkatkan dan memenuhi standar profesionalisme insan pers, PWI telah menyelenggarakan kegiatan Sekolah Jurnalistik Indonesia di 13 provinsi. “Basik panduan kurikulum yang kita berikan pada Sekolah Jurnalistik Indonesia itu adalah basik kurikulum dengan standar internasional. Bukan sekolah atau pelatihan bagi calon wartawan, tapi wartawan yang disekolahkan lagi,” jelasnya.

Ketut Sudikerta mewakili gubernur yang hadir pada acara tersebut menyatakan mendukung penuh kegiatan tersebut. Ia sampaikan pers selama ini sduah sebagai mitra kerja pemerintah provinsi Bali dalam program-program pembangunan untuk mewujudkan Bali Mandara. “Saya apresiasi kegiatan ini sebagai upaya untuk terus meningkatkan profesionalisme insan-insan pers di Bali. Saya masih ingat pesan yang disampaikan salah seorang Dewan Pers ketika melantik pengurus PWI Bali, beliau katakan pers harus memiliki semangat kemajuan dengan budi pekerti yang luhur. Harus memiliki budi pekerti yang luhur untuk mewujudkan profesionalisme kinerjanya,” ungkap Ketut Sudikerta.

Dwikora Putra selaku Ketua PWI Bali mengatakan, kegiatan “Peningkatan Kompetensi Jurnalis” ini nantinya akan rutin dilakukan sekaligus sebagai langkah awal untuk kemudian dilanjutkan dalam penyelenggaraan Sekolah Jurnalistik Indonesia yang akan diadakan mulai tahun 2016 mendatang. “Program PWI Bali ke depan lebih fokus bagi peningkatan kualitas dan profesionalisme sumber daya kita,” katanya. (SB-rka)

Comments

comments