Permainan Ceki Sebagai “Media Sosial” Warga (2)

377
Bermain ceki (foto rka)

Kalau jaman sekarang tersedia banyak media sosial dengan alat komunikasi yang makin hari semakin canggih. Warga Bali pun punya cara untuk melakukan interaksi. Biasanya dengan bertemu sambil ngobrol di bale banjar, pos kamling, di leneng depan rumah, di warung atau saat ada kegiatan ngayah dan gotong-royong. Saat interaksi itu, biasanya ada sarana atau media, bisa berbentuk seka kidung, seka rindik, seka tuak, seka ngendong (ngobrol) maupun dengan media permainan seperti permainan ceki ini.

Permainan ceki inilah salah satunya dijadikan media sosial, sebagai alat untuk berinteraksi, bermain sambil ngobrol plus bisa tertawa lepas. Permainan ini dirasakan memberi hiburan dan keasikkan bagi warga, apalagi saat ada kegiatan begadang di banjar.

Seperti upacara adat atau kematian. Memang saat begadang tersebut, sebagian ada yang mekekawin, ada yang ngobrol basa-basi sesama warga atau warga dengan yang empunya kegiatan upacara. Tapi tidak banyak yang mampu bertahan ngobrol hingga subuh, atau yang mau mekekawin hingga larut malam. Beranjak malam suara kekawin akan segera terhenti, untuk memberikan kesempatan warga lain tidur.

Saat seperti itulah, untuk membantu melanjutkan kegiatan begadang tersebut “dibantu dan ditemani” oleh permainan ceki ini. “Tidur di tempat orang punya upacara tidak etis, apalagi pulang. Ngobrol terus juga bosan, bahan obrolan sudah habis, yang sudi dan rela mendengarkan obrolan juga makin sedikit karena sudah larut malam.

Dengan permainan ceki inilah, kita bisa bertahan melek, karena diselingi tawa dan obrolan-obrolan ringan dan bebas, tidak serius,” ungkap Bli Nyoman, salah seorang warga banjar yang juga dipercaya sebagai pengurus adat ini.

“Malam hari di tempat orang yang ada kegiatan upacara di banjar, kita sepertinya akan merasa kesepian dan seperti terasing bila tidak bisa permainan ceki ini. Walaupun kita datang dari kota, jadi pejabat disana, datang dengan bahan obrolan yang hebat-hebat, warga tidak akan betah begadang cuma mendengar kabar dengan bahan obrolan tinggi-tinggi.

Biasanya sehabis basa-basi, pasti warga akan menggelar meja dan duduk bersila berlima. Untuk mulai membuka permainan ceki, agar bisa melanjutkan kegiatan begadang,” urai laki-laki yang selalu lekat dengan udeng batik di kepala ini.

Ia juga terangkan, krama banjar (yang sudah tuun ayahan) hampir semua bisa permainan ceki ini. Tapi bukan berarti mereka bebotoh. “Ya itu tadi, permaianan ini hanya sebagai sarana dalam interaksi sosial di masyarakat.

Bisa bermain ceki belum tentu mereka bebotoh. Hanya sebagai media sosial dan hiburan di saat-saat ada kegiatan ngumpul warga, seperti kalau ada upacara dan kematian. Juga sebagai media untuk mengakrabkan, menghibur dan tidak memandang tinggi rendah status sosial seseorang. Itu sisi positifnya. Kalau dibelokkan menjadi judi ada taruhan, ya itu urusannya lain,” tambahnya. (SB-Rk).

Comments

comments