Perlu Standarisasi Kompetensi Untuk Hadapi MEA

35

Ngurah Wijaya. |foto-tha|

SULUHBALI.CO , Denpasar – MEA yang merupakan kepanjangan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yang menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal, pembebasan bea tarif masuk antar negara, dengan kerjasama yang saling menguntungkan antar Negara-negara yang terlibat didalamnya.
 
Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean 2015 tersebut bisa menjadi tantangan, peluang dan ancaman, bergantung kesiapan seluruh stake holder suatu negara, sehingga Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum tersebut sebagai tantangan dan peluang dengan meningkatkan daya saing. Dalam hal ini ada beberapa hal yang dianggap menguntungkan yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia berkesempatan berkompetisi ke Negara lain.
 
Di Bali sendiri ada beberapa nilai jual yang dimiliki untuk menghadapi MEA 2015 mendatang, diantaranya fasilitas pariwisata yang memadai, keramahan masyarakat yang menjadi ciri khas Bali, dan SDM yang berlimpah. Bali sendiri selama ini sudah dipercaya menjadi tempat pelaksanaan beberapa konferensi bertaraf Internasional.
 
Menurut Ngurah Wijaya yang merupakan ketua GIPI sekaligus salah satu pelaku pariwisata mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang perlu dibenahi agar Bali siap hadapi MEA 2015, seperti misalnya memperbaiki kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, serta kesadaran para pekerja pariwisata agar bersedia mengikuti standarisasi kompetensi perlu ditingkatkan lagi.
 
“Bali memiliki banyak modal untuk bersaing dengan pasar ASEAN 2015 mendatang, misalnya saja SDM yang berlimpah, masyarakat yang ramah serta fasilitas yang memadai, namun kesadaran para pekerja untuk mengikuti standarisasi kompetensi masih kurang” ungkapnya di Denpasar, Selasa (1/7/2014).
 
Beliau juga menilai bahwa standarisasi kompetensi merupakan hal pokok yang nantinya menjadi modal para pekerja pariwisata untuk bersaing ketika dihadapkan dengan pasar ASEAN 2015 mendatang. (SB-tha)

Comments

comments

Comments are closed.