Perang Informasi Sebuah Trend

105

THE AUSTRALIAN & PERANG INFORMASI

 Oleh :

Jaka Setiawan*

 

Berbagai konflik yang terjadi di dunia dan peperangan telah berubah sesuai jamannya. Saat ini teknologi dan informasi telah menempati porsi pada kehidupan manusia dengan mengambil bagian yang sangat besar. Begitu juga dengan sistem peperangan yang saat ini mengambil bagian dari perubahan tersebut yaitu memberdayakan kelebihan dari keunggulan penguasaan Informasi. Perang Informasi merupakan sebuah kenyataan dan keharusan yang diambil oleh sebuah Negara dan angkatan perangnya untuk merealisasikan tujuan akhirnya.

Pemberitaan media Australia yang menyajikan skandal kekuasaan di meja informasi masyarakat Indonesia bisa jadi bagian dari perang informasi yang dimainkan Australia. Pemberitaan The Australian pada Sabtu (14/12/2013), mengutip kabel diplomatik rahasia Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta pada 2007 yang dibocorkan Wikileaks mengungkapkan bahwa Ani Yudhoyono merupakan salah satu penasihat paling berpengaruh untuk SBY. Pemberitaan media Australia terhadap pemerintahan SBY bukan yang pertama. Sebelumnya, dua media Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, (11/03/2011) memberitakan informasi bahwa SBY melakukan abuse of power. Berita di kedua harian ini bersumber pada WikiLeaks.

Pemberitaan tersebut membuat kegaduhan yang luar biasa di dalam negeri karena sangat menyudutkan pihak Indonesia. Apalagi pemberitaan ini mucul dikala kedua negara tengah berseteru dalam masalah spionase yang dilakukan Australia terhadap Indonesia yang belum sepenuhnya selesai.

Apa makna dari rangkaian pristiwa tersebut bagi Indonesia ? Indonesia sedang menjadi target sebuah peperangan baru yang dinamakan Information Warfare (i-War) atau Perang Informasi. Informasi negatif yang disebarkan media Australia itu sebenarnya sudah bisa disebut sebagai bagian dari perang. Apa sebenarnya tujuan dari pemberitaan The Australian ? Dunia telah berubah, begitu juga dengan ruang peperangan informasi yang mulai bertransformasi dengan segala bagian yang menjadi pendukungnya (Borden, Andrew : 1999).

Memindahkan Perang

Manakala pihak Indonesia dengan segala dukungan masyarakat sedang melakukan upaya mendesak Pemerintah Australia bertanggung jawab atas skandal spionase yang memalukan. Indonesia disuguhi orkestra The Australian yang membuat opini publik di Indonesia berbalik arah.  Dengan berakhirnya perang dingin model perang konvensional atau peperangan dengan menggunakan cara-cara militer sudah bergeser ke peperangan model baru. Model peperangan seperti ini biasa disebut sebagai perang asimetris (asymmetric warfare).

Dalam konteks ini, patut diduga pihak Australia menggunakan The Australian untuk melakukan perang Informasi. Mereka berusaha untuk mengatur informasi di dalam sebuah konflik atau krisis untuk melemahkan atau mengalahkan musuh. Information Warfare juga berarti segala usaha untuk menyangkal, memanfaatkan, memperburuk atau menghancurkan informasi musuh dari segala fungsinya. Proses diplomasi dan penyelesaian terkait spionase yang dilakukan Australia sedang berjalan.Situasi ini yang dibutuhkan oleh pihak Australia ketika dalam keadaan terdesak. Australia berusaha memindahkan peperangan yang tadinya berada di Australia dan kawasan regional, akibat pemberitaan The Australian peperangan tersebut sekarang pindah sepenuhnya menjadi kegaduhan nasional Indonesia.

Trend Baru Perang

Situasi ini bagi Clausewitz mempengaruhi pusat kekuatan suatu negara. Clausewitz menyebutkan bahwa pusat kekuatan suatu negara terletak pada pertemuan gaya tarik (gewicth) tiga unsur kekuatan negara (macht), yaitu rakyat, pemerintah, dan militer. Pemberitaan The Australian ini merusak Interaksi antara pemerintah dan rakyat yang tadinya bersatu dalam makna nasionalisme dan militansi patriotik rakyat melawan spionase Australia.

Tujuan utama dari perang ini adalah mengalahkan lawan tanpa pertempuran militer. Lawan akan berupaya untuk melemahkan interaksi antar pusat kekuatan strategis secara simultan. Interaksi antara pemerintah dan rakyat dilemahkan dengan memunculkan beragam krisis yang membuat rakyat tidak lagi mempercayai kemampuan pemimpin. Perang Informasi ini mengaburkan perang yang sesungguhnya, menguburkan makna nasionalisme dan mengendurkan militansi patriotik rakyat terhadap sipionase Asutralia. Kunci keberhasilan taktik perang ini terletak di penguasaan teknologi informasi.

Perang Informasi ini merupakan sebuah trend baru yang merupakan kebutuhan dan kenyataan yang perlu dihadapi oleh aktor-aktor keamanan manapun. Efek dari perang informasi bisa menghancurkan melebihi daripada peperangan tradisional dengan kekerasan. Perang informasi  ini juga berperan secara langsung pada perang konvensional, baik itu sebagai penyebab, sebagai pelengkap maupun sebagai sub-sistem senjata yang mematikan menurut dimensi yang berbeda. Perang informasi telah digunakan oleh beberapa negara di dunia dalam melancarkan operasinya. Perang informasi dapat dilaksanakan sebagai bagian dari peperangan lain atau dapat pula berdiri sebagai operasi tersendiri dan dinamakan dengan Information Operation (IO).

Jika kita tidak segera menyiapkan kemampuan strategis untuk turut bertarung di perang informasi, kita akan mengalami rangkaian pendadakan strategis yang secara sistematis melemahkan pusat kekuatan strategis kita. Jika kita tidak memiliki kesadaran strategis bahwa lawan sedang melakukan perang informasi terhadap Indonesia, kita akan dikejutkan oleh kondisi di mana kita tidak lagi memiliki kekuatan strategis untuk mempertahankan kepentingan nasional.

 

*Jaka Setiawan : Alumnus KSI UI dan Peneliti Senior Lembaga Kajian Nusantara Bersatu

 

Comments

comments

Comments are closed.