Peracik Kopi Dicurigai Terima Uang untuk Membunuh Mirna

794

SULUH BALI, Jakarta — Pengacara Jessica Kumala Wongso, terdakwa dalam kasus meninggalnya Wayan Mirna Salihin diduga akibat meminum kopi bersianida, Otto Hasibuan menyatakan akan terus mengusut dugaan penyuapan terhadap Rangga, barista (peracik kopi) Kafe Olivier.

Menurut Otto, pengakuan Rangga tentang adanya tuduhan terhadapnya dari seseorang yang mengaku anggota kepolisian bahwa dia disuap untuk membunuh Mirna ada dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang disiapkan jaksa.

“Rangga mengatakan hal itu kepada dokter yang memeriksanya dan tertulis dalam BAP. Dia mengaku dituduh seorang diduga personel polisi menerima uang sekitar Rp140 juta untuk membunuh Mirna,” ujar Otto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2016).

Dia melanjutkan, seharusnya hal ini dianggap serius oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan melakukan pemeriksaan dan penyitaan rekening Rangga. Namun, kata dia, hal ini tidak dilakukan.

Padahal, Ketua Dewan Pembina DPN Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) ini menganggap itu sangat penting untuk membuka kemungkinan-kemungkinan lain dalam kasus tewasnya Mirna.

“Saksi Rangga juga mengaku kepada pihak dokter suka bermain ‘game’ daring memakai uang. Ini kan menunjukkan kemungkinan orangnya seperti apa, dan perlu diperiksa lebih lanjut apakah ada hubungan dengan kasus,” tutur dia.

Adapun dalam BAP, Otto menambahkan, juga terdapat keterangan saksi lain yang perlu dipertimbangkan, seperti ada yang mengatakan bahwa dia tidak suka lagi bekerja di Olivier.

Rangga sendiri yang dikonfirmasi di persidangan membenarkan pengakuannya tersebut. Seseorang yang diduga anggota polisi itu, ujar dia, datang ke Olivier sebelum jam operasional.

Rangga mengatakan orang tersebut menuduhnya mendapat suap dari Arief Soemarko, suami Mirna, untuk membunuh istrinya sendiri.

“Saya langsung melakukan mutasi dengan Pak Tedi (Floor Manager Olivier), tetapi uang itu tidak ada di rekening,” ujar Rangga.

Tim pengacara Jessica menyatakan akan terus menggali fakta-fakta yang berkaitan dengan dugaan tersebut pada persidangan berikutnya.

 

Pengacara Jessica Pertanyakan Tiadanya Sidik Jari

SULUH BALI, Jakarta — Pengacara Jessica Kumala Wongso, terdakwa dalam kasus meninggalnya Wayan Mirna Salihin diduga akibat meminum kopi bersianida, Otto Hasibuan mempertanyakan tidak adanya pemeriksaan sidik jari pada barang bukti.

“Kalau memang curiga pada Jessica, kenapa tidak memeriksa sidik jari?” ujar Otto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (28/7/2016) malam.

Menurut Otto, ketiadaan sidik jari justru akan memperkuat fakta bahwa tidak ada barang bukti yang cukup kuat untuk memberatkan Jessica.

Padahal, dia melanjutkan, cukup banyak benda yang bisa dicek sidik jarinya jika memang jaksa meyakini Jessica-lah yang memasukkan racun sianida di minuman Mirna.

Selain itu, pentolan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) ini menambahkan tidak ada satu pun saksi yang pernah melihat Jessica memasukkan sesuatu ke dalam gelas kopi es vietnam yang dipesannya untuk Mirna.

Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang beberapa kali diputar di ruang sidang pun belum menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa terdakwa membunuh Mirna.

“Kalau tidak ada yang melihat, bagaimana bisa tahu Mirna meninggal karena sianida? Penyidik juga hanya memeriksa sianida dalam gelas dan tidak pernah dari dalam tubuh korban,” kata Otto.

Dalam sidang di PN Jakarta Pusat, Rabu (27/7), digelar pemeriksaan keterangan belasan saksi karyawan Olivier termasuk saksi kunci Hani. Majelis Hakim pun sempat melakukan reka ulang di ruang sidang untuk melihat apa saja yang terjadi di meja nomor 54 pesanan Jessica.

Wayan Mirna Salihin dinyatakan tewas diduga akibat meminum kopi bersianida di Kafe Olivier, Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu (6/1). Satu-satunya terdakwa dalam kasus ini adalah Jessica Kumala Wongso, sahabat korban sejak mereka berdua kuliah di Sydney, Australia. (SB-ant)

Comments

comments