Penyeragaman Budaya Harus Diperhitungkan

78

Ilustrasi foto (joged bumbung di art centre)

SULUHBALI.CO, Denpasar – Pengamat agama, adat, dan pariwisata Dr Ketut Sumadi mengatakan, leluhur masyarakat Bali tidak pernah berpikir tentang penyeragaman budaya sehingga desa adat (pakraman) memiliki ciri khas budaya masing-masing.

“Oleh sebab itu desa adat di masing-masing kecamatan di delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini tidak ada yang sama satu sama lainnya,” kata dosen Fakultas Dharma Duta Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri (IHDN) Denpasar itu, Jumat.

Ia mengemukakan, dalam kehidupan bermasyarakat, kearifan lokal perilaku yang bermakna sosial masyarakat Bali lebih mengutamakan kebersamaan yang selama ini dikenal dengan “menyama braya” atau hidup rukun dan damai penuh persaudaraan.

“Sikap ‘menyama braya’ orang Bali merupakan pengamalan ajaran Hindu ‘Tat Twam Asi’ yang berarti hidup rukun dan saling menghormati hak azasi seseorang yang kini sejalan dengan upaya penegakan hak asasi manusia di dunia,” katanya.

Ketut Sumadi menambahkan bahwa sikap “menyama braya” sejalan dengan pengamalan lebih luas mempunyai makna maha tinggi dalam menjalin keharmonisan hidup dengan sesama dan alam semesta.

Upaya itu juga termasuk dalam menjalin persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam keutuhan NKRI, karena pengertian “tat twam asi” bisa dikembangkan menjadi “saya adalah kamu” dan “orang lain adalah juga saudara kita”.

Oleh sebab itu kehidupan sosial masyarakat Bali selalu menekankan nilai-nilai kebersamaan, pemahaman makna kultural yang dilandasi konsep toleransi, penghargaan, senasib seperjuangan, dan cinta kasih (paras paros sarpanaya).

Dalam kehidupan desa adat orang Bali selalu bekerja sama menerapkan pola humanisme dalam membangun kehidupan harmonis dan bahagia, dengan selalu bekerja sama dalam suka maupun duka, sehingga sistem kekrabatan sangat kental diwarnai dengan rasa setia kawan dan pelayanan yang tulus.

Kesetiakawanan dan hubungan sosial yang harmonis itu dipopulerkan dengan konsep “Tri Hita Karana” karena tidak hanya mementingkan diri sendiri, namun juga memelihara hubungan harmonis dengan sesama mnusia, llingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.

“Dengan demikian pada akhirnya bentuk pengamalan ajaran agama Hindu di Bali tidak bisa lepas dari kebudayaan dan adat-istiadat yang kini menjadi daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri,” ujar Ketut Sumadi. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.