Peningkatan Layanan Rehabilitasi BNN

69

Budyo Prasetyo

SULUHBALI.CO, Denpasar – Badan Narkotika Nasional meningkatkan layanan rehabilitasi pecandu narkoba di Bali melalui pemberian dukungan dana bagi lembaga swadaya masyarakat yang diharapkan ikut membantu program tersebut.

“BNN sebagai ‘leading sector’ masih memiliki keterbatasan dalam menyediakan layanan rehabilitasi yang dapat memenuhi kebutuhan pecandu dan masyarakat,” kata Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNN, Budyo Prasetyo saat menggelar “Focus Group Discussion” bagi lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga dan instansi pemerintah serta masyarakat di Denpasar, Jumat.

Dia menjelaskan keterbatasan itu bisa ditangani dengan upaya penanganan sinergis dan komprehensif dengan melibatkan peran komponen masyarakat dan instansi terkait lainnya untuk membantu para korban penyalahgunaan narkoba dalam menjalani proses rehabilitasi.

BNN memberikan dukungan dana penguatan kepada dua LSM di Bali yakni Yayasan Kasih Kita Bali sebesar Rp31,5 juta dan Yayasan Dua Hati Bali Rp22,4 juta.

Dukungan dana penguatan itu diharapkan bisa dialokasikan untuk pembiayaan transportasi penjangkauan bagi pecandu yang akan direhabilitasi, pembiayaan konseling rujukan dan pelaporan.

Selain itu juga termasuk peningkatan kompetensi penyusunan prosedur standar terkait pelayanan rehabilitasi, peningkatan kompetensi konselor adiksi serta bimbingan teknis peningkatan pelayanan rehabilitasi sesuai standar pelayanan minimal.

Kepala BNN Provinsi Bali I Gusti Budiartha mengatakan untuk sementara rehabilitasi bagi pecandu narkoba dilakukan dengan kerja sama beberapa rumah sakit, klinik, dan Puskesmas.

Dia menjelaskan bahwa Pemprov Bali telah mendukung adanya tempat rehabilitasi namun hal itu masih terkendala prosedur.

“Ada tanah milik provinsi untuk hak pakai, tetapi ada peraturan yang tidak memperbolehkan, seharusnya dihibahkan,” katanya.

Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia pada tahun 2008, angka prevalensi pecandu narkoba di Indonesia diperkirakan mencapai 1,9 persen atau sekitar 3,1 juta-3,6 juta jiwa.

Kemudian pada tahun 2011, angka prevalensi itu naik menjadi 2,2 persen atau sekitar 3,7 juta-4,7 juta orang.

Sementara di Bali sendiri pada tahun 2011, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba diperkirakan mencapai 1,8 persen.

Dari total penyalahgunaan narkoba di Indonesia tersebut, hanya sekitar 0,47 persen atau 18.000 orang yang mendapat layanan terapi dan rehabilitasi karena masih minimnya jumlah layanan rehabilitasi yang ada di Indonesia, termasuk di Pulau Dewata. (SB-ant)

Comments

comments