Pengusung Ogoh-Ogoh Diminta Hindari Gesekan Antarkelompok

380
Ogoh-ogoh banjar Ipah, Sidemen, Karangasem (foto su)

SULUH BALI, Denpasar — Ketua Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali Jero Gede Suwena Putus Upadesa mengimbau masyarakat yang mengusung “Ogoh-ogoh” (boneka raksasa) pada “malam pangrupukan”, yakni sehari menjelang Nyepi tetap menjaga keamanan dan mengindari gesekan antarkelompok.

“Kami mengharapkan arak-arakan ‘Ogoh-ogoh’ yang akan diusung warga masyarakat, khususnya umat Hindu agar berjalan damai, dan lebih menonjolkan seni budaya,” kata Jero Suwena di Denpasar, Senin (7/3/2016).

Ia mengatakan “Ogoh-ogoh” adalah rangkaian dari upacara ritual untuk menetralisir alam semesta, sehingga wujud “Ogoh-ogoh” tersebut sangat menyeramkan yang diarak dan berakhir dengan pemusnaan atau dibakar. Dengan langkah itu diharapkan dunia ini akan damai menyambut datangnya tahun baru bagi umat Hindu.

Jero Suwena menjelaskan, ogoh-ogoh yang diarak itu jangan sampai menciptakan suasana yang tidak kondusif di seluruh Bali.

“Memang dalam satu dua hari ini banyak warga yang mempersiapkan ogoh-ogoh. Sangat diharapkan dalam pawai ini bisa memberikan nilai tersendiri bagi setiap orang yang merayakan,” ujarnya.

Ia mengatakan jumlah ogoh-ogoh di Pulau Dewata data persisnya sudah ada di Polda Bali. Data ini sangat penting untuk pengamanan terutama saat pawai berlangsung Selasa (8/3) malam. Untuk di seluruh Bali, jumlahnya mencapai 4.947 ogoh-ogoh yang tersebar di 1.484 desa pakraman atau desa adat di Bali.

Dengan rincian, di antaranya Kota Denpasar 838 ogoh-ogoh, Kabupaten Gianyar (620), Badung (617), Buleleng (699), Tabanan (773), Klungkung (376), Karangasem (383), dan Jembrana (406). Untuk di Bali tidak ada ketentuan bahwa dalam satu banjar hanya satu ogoh-ogoh.

“Ada banjar (dusun) yang mengarak ogoh-ogoh, tetapi ada banjar yang tidak buat ogoh-ogoh sama sekali. Tidak ada sanksi untuk hal ini,” ujarnya.

Sementara Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, seluruh banjar harus mengarak ogoh-ogohnya sampai ke “catus pata” atau perempatan pusat di desa adatnya masing-masing.

Setelah mencapai perempatan desa masing-masing, ogoh-ogoh harus dibakar sebagai lambang menghilangkan simbol kejahatan dan keserakahan.

“Ogoh-ogoh itu simbol bhuta kala (kejahatan). Jadi harus dibakar,” ujarnya. (SB-ant)

Comments

comments