Pemuda Bali Tolak Ormas Radikal

306

ilustrasi demonstran

SULUHBALI.CO, Denpasar – Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Bali Dvipa berunjuk rasa di depan Mapolda Bali menolak adanya organisasi masyarakat yang kerap bertindak radikal terkait dengan sejumlah kegiatan internasional, salah satunya Miss World.

“Kami menolak aksi radikalisme yang dilakukan oleh beberapa ormas. Kami imbau masyarakat ikut menjaga ketertiban Bali karena saat ini daerah ini menjadi sorotan dunia,” kata Koordinator Aliansi Pemuda Bali Dvipa Ida Bagus Purana Pidada di Denpasar, Senin (16/9).

Menurut dia, Pemerintah dan petugas keamanan seperti pihak kepolisian untuk tidak perlu ragu dalam menegakkan ketertiban dari para ormas yang ingin mengacaukan suasana kondusif di Pulau Dewata.

“Tidak perlu ragu dalam menjaga ketertiban, jangan terpengaruh intervensi dari pihak luar untuk menggagalkan kegiatan internasional di Bali,” ucapnya.

Meski pihaknya mengaku netral, diadakannya sejumlah kegiatan bertaraf internasional di Pulau Dewata seperti ajang kontes kecantikan dunia Miss World, Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Negara Asia Pasifik (KTT APEC), dan Pertemuan Menteri Perdagangan Dunia (WTO), serta sejumlah kegiatan lainnya, dinilai akan mengangkat citra positif, baik Bali maupun Indonesia, di mata internasional.

Untuk itu, pihaknya mendukung Pemerintah dan aparat kepolisian dalam menjaga keamanan dan kedamaian di Pulau Dewata.

“Kami memberikan dukungan secara moril maupun fisik. Kami siap tumpah darah,” ucapnya.

Dalam aksi damai itu, kelompok pemuda yang merupakan gabungan, yakni Komunitas Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Bali, serta beberapa pemuda lainnya.

Sementara itu, Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Bali Imam Mujtahidin mengatakan bahwa pihaknya ingin membantu melancarkan kegiatan di Pulau Dewata, seperti Miss World dan KTT APEC.

“Mereka memandang dari sudut pandang lain. Silakan, itu pandangan mereka. Akan tetapi, kami lihat secara konteks bahwa Miss World menunjukkan seni, bukan merugikan secara agama. Jadi, tidak dipandang satu sisi saja,” ujarnya.

Pihaknya menyatakan bahwa organisasinya mendukung kegiatan di Pulau Dewata karena harus disertai dengan kedamaian dan ketertiban.

“Kami harus dukung dan tidak boleh ada radikalisme karena kami menentang itu,” ucapnya.

Dalam aksinya, para pemuda tersebut membawa spanduk bertuliskan penolakan terhadap aksi radikal para ormas, di antaranya “Tolak FPI dan HTI” dan “Bali Bukan Tempat Ormas Radikal”.

Diadakannya aksi “tandingan” tersebut dilatarbelakangi dengan adanya keinginan masuknya sejumlah ormas dari Pulau Jawa yang ingin menyeberang ke Pulau Dewata untuk menolak kegiatan Miss World yang saat ini tengah memasuki masa karantina. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.