Pemerintah Targetkan Nilai Ekspor Ikan Tuna Sebesar 800 Juta Dolar

184

SULUH BALI, Mangupura – Pemerintah Indonesia saat ini tengah serius membangun sistem perikanan berkelanjutan, salah satunya terhadap tuna. Tuna yang menjadi ikan terfavorite di dunia nyata cukup mampu menopang perekonomian bangsa, sehingga pemerintah terus melakukan peningkatan pendapatan melalui ekspor ikan tuna.

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut P Hutagalung mengatakan, dalam tahun ini saja pemerintah menarget pemasukan dari ekspor ikan tuna ke pasar global sebesar US$800 juta.

“Tahun ini pemerintah menarget ekspor tuna sebesar $800 juta dolar, nilai itu meningkat $100 juta Dolar dibandingkan tahun sebelumnya. Namun masih melihat perkembangan, karena ini masih terbentur soal perizinan,” kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P. Hutagalung, Selasa (26/05/2015).

Dalam Kuartal Pertama 2015 sesuai data yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat produk ikan menjadi komoditas terbanyak penyumbang nilai ekspor perikanan Indonesia setelah udang yang mencapai $ 89,41 Juta.

Untuk itu, pemerintah berupaya meningkatkan produksi industri tuna secara berkelanjutan dengan menerbitkan kebijakan moratorium perizinan kapal eks asing berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 tahun 2014 dan pelarangan alat tangkap merusak berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 tahun 2015.

Peraturan itu dikeluarkan guna menguatkan kedaulatan negara di bidang perikanan sehingga, keberlanjutan usaha akan menjadi landasan kesejahteraan sektor perikanan.

Sektor perikanan, khususnya penangkapan tuna, Indonesia mempromosikan penggunaan metode “pole and line” dan “handline” sebagai metode penangkapan ikan ramah lingkungan dengan menggunakan pancing, telah mampu menghasilkan 150 ribu ton per tahun.

“Sektor perikanan Indonesia telah mempekerjakan sekitar 11 persen tenaga kerja nasional sebagai nelayan tradisional. Di Indonesia, `pole and line serta handline` memiliki peran penting dalam mengentaskan kemiskinan, meningkatkan mata pencaharian, mempertahankan bisnis dan meninkatkan pertumbuhan ekonomi,” terangnya.

Metode tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu contoh untuk bisnis tuna dengan cara yang berkelanjutan mengingat sepertiga ketersediaan tuna diperkirakan ditangkap dengan cara tidak berkelanjutan, sedangkan sekitar 66,7 persen menggunakan metode yang berkelanjutan. (SB-Ijo)

 

Comments

comments