Pekaseh Komang Karma. |foto-rk|

SULUH BALI, Denpasar –  Bila pekaseh juga merangkap calo tanah, maka makin tak terbendung bahkan makin cepat lahan-lahan sawah yang akan beralih fungsi. “Kalau pekaseh merangkap jadi calo tanah…ya hancur. Yang merusak Bali itu sesungguhnya, ya orang Bali sendiri,” celetuk I Kkomang Karma, pekaseh Subak Umadesa, Lodtunduh, Ubud, usai menghadiri pengukuhan Majelis Utama Subak Provinsi Bali, Selasa (5/4/2016) di Denpasar.

“Berapa sih penghasilan pekaseh ? Tidak seberapa, tapi kalau tiba-tiba tampilannya wah, dengan mobil mewah hehe…ya itu cuma oknum. Ya tentu ada yang seperti itu,” katanya. Ia kemudian paparkan bahwa Majelis Subak yang terdiri dari para pekaseh, salah satu tugasnya untuk melestarikan keberadaan subak.

Malah dirinya merasa senang dan berharap ada banyak pekaseh yang duduk sebagai majelis subak. “Agar para pekaseh ada rasa malu kalau sampai melanggar tanggungjawab dan komtmentnya terhadap subak, dan tidak mencari hasil dari jabatan sebagai pekaseh,” papar anggota Majelis Madya Subak Gianyar ini.

Ayah dari 2 orang anak ini kemudian menuturkan tantangan selaku pekaseh di daerah yang terkenal sebagai desa wisata dunia tersebut. Ia ceritakan berbagai cara dilakukan orang-orang berduit untuk mengincar sawah-sawah produktif dengan panorama indah disana, yang ingin dibeli untuk dijadikan usaha seperti villa, restaurant maupun hotel.

“Waduh berbagai cara mereka lakukan untuk bisa mendapatkan sawah-sawah kita. Tapi saya berpikir jauh ke depan, tidak hanya untuk hari ini. Malah saya lihat justru orang asing lebih sayang terhadap lahan-lahan sawah kita yang masih alami dan indah itu. Tetapi kenapa kita yang justru meninggalkannya ? Bule-bule itu sering mengeluh dan merasa sedih menyaksikan banyaknya sawah-sawah kita yang hilang,” ia menceritakan keluhan para turis yang kerap disampaikan kepada dirinya.

Pekaseh Komang Karma pun berinisiatif dan mewujudkan jalan setapak di sekitar subak, yang bisa dimanfaatkan oleh para turis untuk jalan-jalan menikmati suasana persawahan. “Kalau di tempat lain para turis melewati jalan setapak seperti itu harus bayar, di tempat saya gratis. Bahkan pernah ada orang Jakarta mau ngontraknya seharga Rp 2 milyar, kita tidak kasi,” ujarnya.

Sebelum ngayah jadi pekaseh, Komang Karma (46 tahun) ngaku berbagai pekerjaan sudah pernah ia lakoni. Jadi guide 10 tahun, sebagai kontraktor, dipercaya mengelola usaha milik orang Jepang, sebagai pengurus Desa Pekaraman hingga jadi tukang kuras WC.

“Tapi akhirnya saya merasa lebih nyaman kerja sendiri dengan mengerjakan sawah saya di rumah. Saya kerjakan langsung, bukan dengan menghandalkan buruh. Saya bukan petani yang bekerja dengan handphone hehe…. Bahkan 2 anak saya, saya ajak turun ke sawah. Agar mereka tahu, benar-benar menikmati hasil jerih payah sendiri,” pungkasnya. (SB-Rk)

Comments

comments