PB3AS Menunggu Suara Anda

SULUH BALI, Denpasar – Disadari oleh Mangku Pastika, komunikasi dua arah akan didapat informasi dan input yang lengkap untuk selanjutnya dihimpun sebagai bahan mencarikan solusi saat mengambil keputusan. Baik itu lewat dialog, diskusi, maupun mendengar apa yang menjadi masalah pada warga masyarakat. Selain itu ia sering juga dengan cara mendatangi langsung warga masyarakat baik dengan cara formal maupun non formal.

Acara Simakrama yang rutin digelar tiap bulan misalnya, merupakan cara untuk membuka ruang dialog, keterbukaan dan untuk menerima bergabai masukan dan permasalahan yang ada di masyarakat Bali. Siapa saja bisa datang dan bicara seputar apa saja, tanpa melalui undangan.  “Kami siap mendengar masukan, keluhan, permasalahan yang ada. Bahkan kami pun siap dimaki,” ungkap Pastika dalam berbagai kesempatan. “Karena bagi saya kritik itu sebagai vitamin buat saya,” tambahnya.

Selaku kepala daerah, begitu pula sebagai orang Bali yang lama tinggal di rantau, Pastika menyadari dan mengamati betapa masih minimnya keberanian warga kita dalam menyampaikan pikiran dan mengeluarkan pendapat di muka umum. Ia melihat masih sering uneg-uneg dan masalah hanya disimpan, kemudian dibelakang ngerenggeng (ngedumel).

“Untuk bicara di depan umum, menyampaikan pendapat perlu nyali. Saya ingin warga kita memiliki keberanian yang besar, nyali yang besar untuk berani bicara di forum-forum. Nah dengan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja yang disingkat menjadi PB3AS ini, saya beri tempat bagi warga untuk bicara. Dari yang belum biasa, masih belajar, atau yang sudah sering bicara, silahkan bicara, apa saja,” katanya saat simakrama sehari sebelum podium itu resmi dibuka.

Sesungguhnya lewat podium yang ada di pojok lapangan Renon itu, Pastika sekaligus menaruh harapan dari Bali bisa muncul tokoh-tokoh yang berani tampil dan diperhitungkan, baik di Bali tmaupun di tingkat nasional. “Coba berapa sih orang Bali yang kelihatan di tingkat nasional?” katanya dengan nada tanya dalam sebuah diskusi. Nah dengan podium (PB3AS) itu disediakan sebagai salah satu cara untuk bicara bebas menumpahkan uneg-uneg, masalah, kritik, masukan untuk pemerintah provinsi Bali, disamping untuk belajar serta melatih keberanian bicara dan tampil di muka umum. .

Tiap hari Minggu pagi, podium yang terletak di pojok lapangan Renon itu, siap menunggu semua warga untuk bicara apa saja. Bila warga yang lain melakukan olah raga ringan di hari Minggu pagi, yang di podium pun yang sedang menyuarakan suara rakyat maupun pribadi akan didengar pula. Pastika pun tidak hanya menyediakan podium itu, namun ia juga datang melihat dan mendengar mereka yang tengah bicara di podium. (SB-raka)

Comments

comments