Pastika : Terus Kawal Program Pembangunan Melalui Pemberian Kritik dan Masukan

30
Foto bersama dengan para penerima penghargaan. (foto-hums)

SULUH BALI, Denpasar – Mangku Pastika menyatakan, Program Bali Mandara sudah berusia 9 tahun. Tahun 2017 ini merupakan tahun ke-4 program Bali Mandara jilid 2. Secara umum program-program pembangunan tersebut telah dapat terlaksana dengan lancar. Namun, ia tegaskan, dibalik rasa syukur itu tentu wajib dilakukan evalusi atas semua pelaksanaan program tersebut.

“Saya menyadari masih ada program yang belum terlaksana secara efektif dan masih ada program yang belum memberikan manfaat secara optimal bagi masyarakat,” ungkap Gubernur Mangku Pastika saat memberikan sambutan pada malam penganugerahan Bali Mandara Parama Nugraha 2017, di Taman Budaya, Selasa malam (29/8).

“Untuk itu saya mengajak seluruh komponen masyarakat Bali untuk tidak henti-hentinya mengawal setiap program pembangunan melalui pemberian kritik dan masukan yang konstruktif serta solusi yang aplikatif. Sehingga ke depan semua program dapat berjalan efektif dan tepat sasaran untuk memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan seluruh krama Bali,” ujar Pastika.

Ia yang malam itu hadir bersama Wagub Ketut Sudikerta, menyampaikan bahwa penghargaan Bali Mandara Parama Nugraha diberikan kepada para tokoh atau pemuka masyarakat yang secara konsisten menyumbangkan dedikasi dan pengabdiannya untuk daerah dan krama Bali khususnya sampai tahun 2017 ini.

“Penghargaan ini bermakna pula sebagai apresiasi tertinggi dari Bali Mandara. Bagi mereka yang berdedikasi tinggi memajukan Bali dalam bidang pengabdian masing-masing Saya juga menyadari dan telah melihat langsung di seluruh Bali, sangat banyak pemuka masyarakat yang telah berdedikasi tinggi serta secara konsisten mengabdi untuk kemajuan Bali,” paparnya.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasihnya kepada pemuka dan kelompok masyarakat yang sudah ngayah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh tersebut. Pada tahun 2017 ini ia tetapkan 5 orang penerima Bali Mandara Parama Nugraha. Dan ia ia juga sampaikan, secara berkelanjutan setiap tahun tetap akan menganugerahkan penghargaan tersebut kepada para pemuka masyarakat yang dipandang layak dan memenuhi kriteria pengabdiannya.

“Saya yakin, penghargaan ini bukanlah menjadi tujuan pengabdian dari para pemuka masyarakat yang telah mengabdi dan ngayah dengan tulus ikhlas. Kepada para penerima penghargaan tahun ini, saya ucapkan selamat. Saya berharap dedikasi dan pengabdian saudara-saudara terhadap kesejahteraan krama Bali terus ditingkatkan. Sehingga dapat menjadi teladan sekaligus motivasi bagi seluruh karma Bali untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan,” katanya di depan para undangan dan warga yang memenuhi panggung terbuka Arda Candra, Taman Budaya malam itu.

“Saya yakin dengan semangat kebersamaan dan kerja keras seluruh komponen masyarakat Bali, kita bersama-sama akan dapat mewujudkan masyarakat Bali yang Maju, Aman, Damai dan Sejahtera,” pungkasnya.

Lima tokoh yang diberikan Bali Mandara Parama Nugraha 2017 malam itu adalah : 1. I Gusti Agung Prana, yang telah bertahun-tahun mendedikasikan hidupnya dalam bidang lingkungan dan pariwisata. Khususnya sebagai pelaku dan perintis best pactice pariwisata berbasis masyararakat dan berkelanjutan. 2. DR. Ir. Ni Luh Kartini, M.S, yang telah mengadikan hidupnya sepenuhnya untuk mendalami pertanian organic sejak usia belia. Dosen Fakultas Pertanian UNUD ini memiliki komitment yang kuat memasyarakatkan kembali pertanian organik khususnya dengan memanfaatkan media cacing tanah. 3. Abu Bakar. Sosok seniman : sastrawan dan penyair yang sangat mencintai Bali. Meski namanya “sangat Arab”, Abu Bakar, namun sungguh-sungguh merasa dirinya adalah orang Bali tulen dengan semangat Indonesia yang membara.

Kemudian tokoh ke-4 yang diberi penghargaan Bali Mandara Parama Nugraha 2017 adalah I Wayan Kantra. Petani yang sejak 5 tahun belakangan berhasil membudidayakan buah naga. Pria asal Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini awal-awalnya hanya mengupayakan pertanian buah naga di atas tanah 2 hektar lahan kering berbatu yang cadas. Yang tentunya tidak cocok untuk pengembangan usaha tani. Namun atas kerja kerasnya, Kantra berhasi menjadikan buah naga tumbuh subur di lahan tersebut.

Tokoh berikutnya adalah Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa. Tokoh spiritual yang bersahaja, dengan pemikirannya yang modern. Banyak memperngaruhi umat Hindu di Bali dengan pemikirannya reformis dan konsisten terhadap keberadaan Hindu, baik di tingkat nasional maupun dunia.

Acara yang sekaligus sebagai penutupan Bali Mandara Mahalango 2017 tersebut juga diisi oleh pagelaran Sendratari Kolosal dengan judul “Bhinneka Tunggal Ika Maha Sakti” oleh Sanggar Paripurna, Desa Bona, Ginyar. Kemudian puncaknya dilakukan undian kupon doorprize yang telah diberikan kepada semua yang hadir, dengan hadiah berupa sepeda motor, TV, kulkas dan lain-lain. (SB-Rk)

Comments

comments