Pastika Tak Ingin Ada “Bau Amis” di Pameran PKB

58

SULUH BALI, Denpasar – Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengharapkan pelaksanaan PKB ke-37 Tahun 2015 yang rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo pada Sabtu (13/6) dapat terlaksana lebih baik dari tahun sebelumnya. Selain penekanan pada materi pawai, pelaksanaan pameran kembali menjadi sorotan Gubernur Pastika. Dia ingin, pelaksanaan pameran tahun ini steril dari ‘bau amis’ seperti isu jual beli stand yang kerap mewarnai PKB sebelumnya. Penegasan itu disampaikan Pastika saat memimpin rapat pleno PKB ke-37 di Ruang Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Minggu (31/5).

Menurut Pastika, munculnya persoalan di arena PKB dipicu oleh pergeseran konsep dan semangat awal dari pelaksanaan pamaren. “Saya nilai, sudah tidak konsisten lagi dengan pameran, tapi telah bergeser ke aktifitas jualan,” ujar Pastika yang didampingi Wagub Ketut Sudikerta. Jika konsepnya pameran, materi yang disajikan seharusnya adalah hasil terbaik dari kreatifitas perajin Bali. Selain itu, produk yang dipamerkan harus dapat dijamin kualitasnya dengan harga sesuai. “Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana agar konsumen mendapat garansi dari barang yang mereka beli,” imbuhnya.

Dia juga berharap, ke depannya peserta pameran dievaluasi kembali agar yang tampil di ajang PKB adalah pihak produsen, bukan penjual. “Kalau mau idealis, di pameran itu jangan ada perdagangan. Peserta hanya memperkenalkan produknya, kalau memang tertarik ya bisa dipesan,” imbuhnya. Lanjut dia, pergeseran ‘roh’ pameran ke jualan inilah yang menyebabkan PKB terkesan seperti pasar malam dan tiap tahun peminatnya makin membludak dan tak bisa semuanya bisa diakomodir. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pastika berharap agar pameran dapat dikembalikan ke konsep awal.

Selain bidang pameran, pagelaran juga tak luput dari sorotan Gubernur Pastika. Dia mendorong pengembangan seni yang ditampilkan pada PKB agar tak terkesan monoton. “Dalam hal ini Jepang bisa kita tiru, maju tanpa tercerabut dari akar budaya,” imbuhnya. Tanpa bermaksud mengecilkan arti, dari pengamatannya, permainan tradisional anak yang ditampilkan cenderung ketinggalan jaman dan sudah tak sesuai dengan perkembangan dewasa ini. “Coba cari terobosan baru. Misalnya, cerita Ramayana, Mahabrata atau yang lainnya diadaptasi ke permainan game. Anak-anak pasti akan lebih tertarik,” imbuhnya.

Selanjutnya terhadap pelaksanaan pawai, Pastika minta agar Bupati dan Walikota mengontrol langsung materi yang akan disajikan oleh duta seni mereka. “Jangan berhenti pada tahap sudah memerintahkan, tetapi harus yakin apa sudah dikerjakan atau belum,” imbuhnya. Pastika sengaja menjadwalkan rapat pleno lanjutan setelah aganda serupa pada Rabu (27/5) lalu. Dia ingin meyakinkan kalau tim pelaksana PKB telah bekerja bersungguh-sungguh untuk hasil yang lebih baik. Dia juga mengingatkan agar kekurangan yang terjadi pada tahun sebelumnya tak terjadi lagi pada pelaksanaan PKB ke-37.

Selain tim kepanitiaan resmi, pleno kali ini juga menghadirkan Kritikus Budaya Nyoman Wija. Wija yang secara khusus diundang Gubernur Pastika memaparkan sejumlah persoalan yang masih ditemukannya pada pelaksanaan PKB ke-36 Tahun 2014 lalu. Dia menilai, prosesi pawai masih terkesan hanya dinikmati oleh tamu undangan yang duduk di panggung kehormatan. Padahal seharusnya masyarakat diberi ruang yang lebih nyaman untuk menikmati prosesi pawai. Untuk itu, Wija merekomendasikan agar panggung kehormatan dapat ditambah. Masukan ini diakomodir oleh pihak panitia dengan memperpanjang ruta pawai. Pada PKB ke-37 nanti, pawai akan mengambil start di depan Kantor Gubernur, berbelok ke Jalan Dr.Kusuma Atmaja lanjut ke Jalan Raya Puputan. Di sepanjang jalur tersebut, peserta pawai akan melakukan atraksi sambil berjalan. Setelah melewati panggung kehormatan, para peserta pawai diarahkan ke Jalan Juanda. Dengan pola ini, masyarakat dapat menikmati pawai di seputaran Lapangan Renon (tak terkonsentrasi hanya di panggung kehormatan,red). Selain itu, Wija juga menyoroti tentang pameran yang makin penuh dengan pedagang hingga mendesak ruang yang semestinya diperuntukkan bagi publik. Pengaturan parkir dan minimnya fasilitas bagi media peliput juga tak luput dari sorotan Nyoman Wija. Pastika menyampaikan terima kasih atas berbagai masukan yang diberikan dan berharap hal tersebut menjadi perhatian panitia pelaksana PKB ke-37. (SB-hum)

Comments

comments