Pastika : Revolusi Diri Dulu, Sebelum Merevolusi Orang Lain

Bali, Provinsi Pertama Canangkan Gerakan Revolusi Mental

3258
Saat pembakaran papan bertuliskan hambatan-hambatan bagi revolusi mental (foto rka)

SULUH BALI, Denpasar – Bali menjadi provinsi pertama yang melakukan gerakan revolusi mental, dengan dilakukannya Deklarasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Provinsi Bali, di Gedung Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Sabtu (2/1/2016).

Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya menyatakan, bahwa sesungguhnya nilai-nilai dari revolusi mental yang terdiri dari Integritas, Etos Kerja dan gotong Royong itu, sudah sejak lama dilaksanakan oleh pemerintah provinsi Bali.

“Embrio gerakan revolusi mental sebetulnya sudah sejak lama dilaksanakan pemerintah provinsi Bali. Sampai tahun ke – 7 kepemimpinan saya ini, simakrama gubernur dengan masyarakat Bali sudah dilaksanakan 74 kali. Termasuk hari ini. Dan sudah keliling di seluruh/kabupaten kota se – Bali. Kegiatan simakrama antara lain membangun nilai transparansi, partisipasi, responsibilitas, dan akuntabilitas pemerintah,” papar Pastika.

Menurut Pastika, nilai-nilai tersebut sebetulnya juga menjadi hakikat dan nilai dasar dari gerakan revolusi mental. Yaitu integritas, Etos kerja dan Gotong-royong.

Ia sampaikan, kehadiran seluruh komponen masyarakat Bali pada hari ini yang menyatakan kebulatan tekad melaksanakan gerakan revolusi mental menunjukkan bahwa pemerintah provinsi Bali bersama masyarakat Bali siap memulai gerakan nasional revolusi mental dari palau dewata.

“Tujuan pencanangan ini bukan untuk gagah-gagahan menjadi provinsi yang pertama melakukan pencanangan. Tetapi yang lebih penting adalah menggemakan ke seluruh penjuru tanah air. Bahwa Bali siap dan sudah melaksanakan substansi gerakan nasional ini. Sehingga secara resmi layak menyatakan diri untuk memulainya, untuk kemudian diikuti oleh daerah-daerah lainnya,” tambah Pastika.

Usai memberi sambutan, Pastika mengajak seluruh undangan dan komponen masyarakat yang hadir untuk menyaksikan “penghancuran dan membakar” secara simbolik, hambatan-hambatan dari sikap mental itu. Seperti sikap mental berpura-pura, munafik, feodalisme, malas, tidak disiplin. Disiplin waktu, disiplin sumber daya dan disiplin dalam bekerja. Hambatan-hambatan tersebut ditulis di atas papan triplek oleh para pejabat di lingkungan Pemprov Bali, yang dikumpulkan di depan gedung Wiswa Sabha kemudian dihancurkan dan dibakar.

“Mari kita merevolusi diri kita sendiri terdahulu, sebelum kita merevolusi orang lain. Mulai dengan hal-hal kecil, seperti sampah jangan sembarang dibuang. Kalau masih kita bisa berbuat kebaikan, kenapa kita harus berbuat yang buruk ? Mari kita kerja keras, kerja cerdas, kerja yang berkualitas, kerja ikhlas dan tuntas,” pesan Pastika.

Acara Deklarasi Gerakan Nasional Revolusi Mental Provinsi Bali tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Bali, Wakil Gubernur Bali, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, DR. Haswan Yunaz, M.M, M,Si. perwakilan BPK dan BKPP, perwakilan Ombudsman RI, para anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Bupati/Walikota se-Bali, Bendesa Agung MUDP, Ketua FKUB Bali, Pimpinan Perguruan Tinggi, pemuka masyarakat, pimpinan Organisasi Kemasyarakatan dan masyarakat/undangan dan tokoh-tokoh masyarakat se-Bali. (SB-Rk).

Comments

comments