Pastika Harap Pemuka Agama Jadi Pembuka Jalan Pembentukan Iman Umat Yang Tangguh

13
Gubernur Mangku Pastika saat menghadiri Sidang Raya Umat Katolik (SINODE) ke-4 Keuskupan Denpasar di gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua.

SULUH BALI, Denpasar – Ditengah era kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, hampir seluruh agama tak terlebih umat Katholik menghadapi persoalan yang sama yakni tantangan kemajuan teknologi, dimana umatnya harus tetap bisa membangun iman yang kuat ditengah pengaruh kemudahan teknologi informasi yang juga memiliki sisi negatif. Oleh karena itu, para rohaniawan pemuka agama diharapkan bisa menjadi panutan dan pembuka jalan dalam pembentukan iman yang tangguh bagi para umatnya. Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat membuka Sidang Raya Umat Katolik (SINODE) ke-4 Keuskupan Denpasar di gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua, Minggu (26/11).

“Generasi muda para remaja saat ini ditengah kemajuan teknologi dan masyarakat kita yang majemuk sudah mulai bertanya, hampir seluruh agama menghadapi tantangan ini, mereka mulai bertanya apa perlu mereka beragama, apa gunanya agama. Oleh karena itu, disinilah peranan para pemuka agama untuk menjadi pembuka jalan bagi generasi muda dalam pembentukan iman yang tangguh sehingga mereka bisa mengikuti ajaran agama sebaik-baiknya,” cetus Pastika.

Lebih jauh, dalam sambutannya Gubernur Pastika, menyatakan Bali sedang mengalami proses transformasi sosial budaya, baik karena faktor internal dari dinamika kehidupan masyarakat Bali yang sudah bergerak cepat, yang sudah bercirikan speed, surprise, and suddenshfit maupun faktor eksternal. Fenomena ini tentu juga berpengaruh pada eksistensi umat beragama dan kualitas kerukunan hidup beragama. Berbagai nilai modernitas yang berkembang sangat berpotensi menimbulkan gangguan dan ancaman pada keharmonisan dan kerukunan masyarakat Bali. “Salah satunya diantaranya adalah sikap eklusif. Sikap ini harus dihindari karena akan menjauhkan seseorang atau kelompok, bahkan umat beragama dari lingkungan sosial,” ujarnya.

Untuk itu, Gubernur Pastika menyambut baik dan mendukung pelaksanaan Sinode karena sebagai wahana startegis untuk mengevaluasi program pembinaan umat yang telah dilaksanakan oleh Keuskupan Denpasar, sekaligus merumuskan program kedepan. Kemajuan pembangunan serta dinamika globalisasi, telah membawa berbagai dampak. Apalagi Bali, dengan berbagai kemajuan membawa konsekuensi semakin berkembang pula permasalahan umat. “Mari terus kita tumbuhkan budaya hidup menyama braya, budaya hidup bersaudara dalam perbedaan karena perbedaan itu jika dikelola dengan baik akan muncul harmoni, kedamaian dan kerukunan dan akhirnya akan memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan,” imbuhnya.

Sementara itu, Uskup Denpasar, Mgr. DR. Silvester Sun, Pr mengatakan umat Katolik di keuskupan Denpasar adalah kawanan kecil. Namun umat Katolik siap menghadapi era globalisasi dan mampu hidup dengan keanekaragaman, serta menciptakan persatuan dan kesatuan berdasarkan falsavah Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945.

Ditambahkan  Ketua Panitia Sinode IV, Rm. Herman Yoseph Babey, Pr mengatakan, Sinode adalah panggilan Bapak Uskup Denpasar bagi seluruh umat Katolik untuk berjalan bersama dalam membangun gereja agar semakin berkualitas, berdaya pikat dan berdaya guna di tengah dunia. Ia pun menjelaskan Sinode IV diikuti oleh 125 orang peserta yang diantaranya berasal dari Imam, Biarawati, dan Umat, yang berlangsung selama lima hari mulai tanggal 25 s.d 30 Nopember 2017.  Tema yang diambil yakni ; Menjadi Gereja yang Beriman Tangguh, Mandiri dan Mampu Bersaksi dalam Masyarakat yang Majemuk. (SB-humprov)

Comments

comments