Pastika Bantu Nyoman Sudarta, Warga Desa Nyalian, Klungkung

0
461

SULUH BALI, Klungkung – Gubernur Bali Made Mangku Pastika merespon cepat adanya informasi yang disampaikan masyarakat ke akun social media facebook miliknya terkait kondisi Nyoman Sudarta (42), warga Banjar Dinas Pekandelan, Desa Nyalian, Banjarangkan, Klungkung yang mengalami kelumpuhan akibat terjatuh dari pohon saat mencari kayu bakar sekitar 7 tahun yang lalu.

Secara khusus, Gubernur Pastika mengutus Staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali untuk meninjau sekaligus menyerahkan bantuan sementara kepada Sudarta Kamis (3/5) pagi. Setelah berkoordnasi terlebih dahulu ke Kantor Perbekel Desa Nyalian untuk mencari informasi lebih lanjut terkait kondisi yang bersangkutan, tim langsung menuju rumah Sudarta ditemani Kelian Banjar Dinas Pekandelan I Gst Ngurah Sarjana.

Kepada tim, Sudarta menceritakan bagaimana dirinya sampai mengalami lumpuh hingga saat ini. Tujuh tahun yang lalu, dirinya mencari kayu bakar. Melihat ada ranting yang tersangkut di pohon, dirinya mencoba naik untuk mengambil. Namun nahas, Sudarta terjatuh setelah tempat kakinya berpijak patah.

“Kejadiannya sudah cukup lama, sebenarnya Istri sudah melarang untuk mencari kayu bakar. Saat mencari kayu bakar, saya melihat ada ranting tersangkut diatas pohon. Saya coba naik, cukup tinggi pohonnya. Tempat kaki saya berpijak patah, dan Saya terjatuh. Setelah itu, saya tidak ingat apa-apa,” kenang Sudarta.

Ditambahkan Sudarta, saat kejadian tersebut dirinya langsung dibawa ke salah satu rumah sakit di wilayah Klungkung namun tidak mampu menanganinya dan disarankan untuk ke RSUP Sanglah, Denpasar. Namun nasib pahit harus diterima Sudarta, dirinya harus menerima kenyataan lumpuh setengah badan.

“Saat itu Saya langsung dibawa ke RS di Klungkung, namun karena tidak sanggup, kemudian saya dibawa ke RS Sanglah. Kata Dokter tidak ada masalah pada tulang saya, tidak ada hal yang perlu di operasi juga. Namun kondisi dari dada sampai kaki saya mengalami kelumpuhan, kata dokter saraf kejepit. Disarankan untuk menjalani pengobatan terapi, dan saya sampai sekarang sudah menjalani terapinya namun tidak ada hasil masih tetap sama seperti ini,” imbuhnya.

Dengan kejadian ini, otomatis Sudarta tidak lagi bisa bekerja sehingga sang istri Kadek Mudiari (34) harus menjadi tulang punggung keluarga. Mudiari yang kesehariannya sebagai tukang jahit, penghasilannya tidak menentu. Kondisi ini diakui Sudarta cukup berat terlebih anak semata wayangnya Ni Luh Maia Tresna Putri (7) kini sudah duduk di kelas 1 sekolah dasar.

“Istri sehari-hari menjadi tukang jahit, Saya kadang bantu membuat canang. Penghasilan tidak menentu, cukup berat juga apalagi anak sudah sekolah sekarang,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Sudarta mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Bali yang telah memberikan perhatian kepada keluarganya. Ia berharap kepada pemerintah agar bisa terus memperhatikan masyarakat lainnya yang juga membutuhkan. (SB-humprov)

Comments

comments