Pastika | Bali Harus Maju Dan Sejahtera, Bukan Cuma Ajeg

84

Mangku Pastika saat diwawancara para awak media usai Simakrama. |foto-arix|

 

SULUH BALI, Denpasar  – Mangku Pastika menyampaikan Bali dan masyarakat Bali harus berubah kearah kemajuan. Perubahan dan kemajuan tersebut muaranya adalah kesejateraan bagi semua masyarakat Bali. “Memang membuat perubahan itu tidak mudah. Bisa dikeroyok orang kita. Karena dianggapnya kita ingin mengubah budaya segala macam. Padahal kita ingin bagaiman budaya feodal itu berkurang perlahan-lahan. Karena sifat feodalisme adalah bagiamana menghebatkan diri sendiri dan membuat orang lain sengsara, miskin dan bodoh,” katanya saat simakrama di wantilan DPRD Bali, Renon, Sabtu (30/5/2015).

Mantan Kapolda Bali ini kemudian katakan, bagaimana kesejahteraaan itu harus  dikembalikan kepada rakyat. Bukan dinikmati oleh kelompok tertentu saja. “Kalau jaman dulu di negara-negara feodal seperti itu. Kenapa banyak rumah rakyat yang jelek, karena yang penting bagaimana rumahnya dia yang bagus. Perubahan ini memang tidak gampang. Mungkin tidak terlalu terasa oleh masyarakat Bali bagaimana kita sedang melakukan perubahan. Karena ada kelompok-kelompok tertentu yang merasa elit dan tidak boleh ada rakyatnya maju. Karena kalau maju bisa menentang dia, mulai menanyakan hak-haknya. Itu sudah terjadi ribuan tahun di Bali ini. Baru mulai kita ubah beberapa tahun terakhir ini, setelah reformasi,” ungkap Pastika di depan peserta simakrama.

Memang ia akui,  tidak gampang terutama baginya dan sebagian masyarakat yang punya pikiran-pikiran maju ini. “Oleh karena itu Bali Mandara M yang pertama maju itu dianggap yang merusak Bali. Karena kita mengajak orang Bali untuk maju. Karena ada semboyan lain harus ajeg. Ajeg artinya tetep seperti itu, tidak usah bergerak. Itulah yang menjadi masalah. Jadi kalau ada yang bilang islah dan sebagainya, ini masalah pemikiran mau kemana kita Bali ini. Saya berpikir Bali harus maju,” tambahnya.

Mangku Pastika juga sampaikan sekarang ini ada 300 miliar modal beralih ke Banyuwangi. Padahal awalnya dana tersebut akan digunakan untuk membangun marina di Benoa. “Bangyuwangi akan jadi saingan kita yang luar biasa bagi Bali. Marina yang tadinya mau dibangun untuk kapal-kapal kecil, kapal pesiar, nanti akan parkirnya disana semua di Banyuwangi. Karena tidak boleh dibangun di Benoa . Dan investor-investor semua lari ke luar Bali. Kenapa ? Karena mereka tisak mungkin membangun di Bali. Karena tidak mengijinkan mereka. Kita harusnya sudah punya rumah sakit berstandar internasional rumah sakit Bali Mandara 3 tahun yang lalu. Tapi karena IMB nya nggak keluar-keluar yang nggak jadi. Itu persoalannya,” ungkap Pastika.

“Kita mau maju apa tidak ? Ya saya sih setuju saja kalau sebagaian besar rakyat Bali maunya diem saja, ya diem sajalah. Apakah kita pilih yang maju atau pilih yang diem. Tergantung kita semua. Pilihan ada di kita. Khawatir anak-anak kita akan cari kerja di Banyuwangi. Lima tahun yang akan datang, sepuluh tahun yang akan datang kita akan kesana. Ingatlah yang muda-muda, anak saudara-saudara akan cari makan ke Banyuwangi,” katanya dengan nada serius. (SB-Raka)

Comments

comments

Comments are closed.