Pariwisata Kita Dijual Terlalu Murah

203
Lanang Sudira

SULUH BALI, Denpasar – Bali yang sudah dikenal sebagai salah satu tujuan wisata dunia dan juga sumber ekonominya juga mengandalkan dari kepariwisataan, namun nyatanya belum mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Bali dari hasil kepariwisataan tersebut.

Demikian pendapat yang disampaikan salah seorang peserta Simakrama Gubernur Bali, Lanang Sudira di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Niti Mandala, Sabtu (7/4) lalu.

Menurut dia, salah satu penyebabnya juga adalah pariwisata kita dijual terlalu murah jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga mengandalakan ekonominya dari kepariwisataan.

“Pariwisata kita dijual terlalu murah. Di Singapore harga tiket masuk tempat-tempat wisata harganya puluhan dan ratusan dollar Singapore. Sedangkan kita di Bali masih cuma puluhan ribu rupiah. Ini sangat murah sekali. Padahal obyek-obyek wisata kita disini sangat alami, tidak kalah menariknya dengan di luar negeri,” ungkap laki-laki yang juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan ini menguraikan hasil amatan dan perbandingan pariwisata Bali dan Singapore.

Dia juga paparkan dari hasil amatannya disana, kalau di negara Singapore tersebut hampir semua obyek wisatanya merupakan obyek buatan bukan alami. Namun obyek tersebt dibuat dengan sangat baik, professional, dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang juga bagus bagi para pengunjung.

“Kita tidak mampu memelihara dan memaksimalkan karunia Tuhan yang telah diberikan kepada kita di Bali. Hutan mangrove misalnya, Singapore hanya punya 202 hektar. Sedangkan negara kita punya 3500 juta hektar. Di Bali di kawasan Tahura itu saja ada 1300 hektar. Namun pemeliharaannya, penataannya, kita jauh kalah dengan Singapore dengan hutan mngarove buatannya. Disana hutan mangrove jadi salah satu obyek wisata dengan penataan yang sangat bagus dan harga tiketnya juga mahal,” ungkapnya.

Memang dia akui, dibandingkan dengan Singapore, Bali masih harus lebih banyak lagi untuk berbenah. Seperti misalnya menyangkut kebersihan, disiplin berlalulintas, infrastruktur, penegakan hukum, penataan kawasana dan obyek wisata, profesionalisme dalam pelayanan dan sebagainya.

“Disana, di Singapore hampir jarang dan nyaris tidak kita temui ada  polisi yang jaga dan mengatur lalu-lintas. Namun lalu-lintasnya bisa sangat lancer dan tertib. Tidak ada kemacetan. Begitu juga dengan kebersihannya, sangat diperhatikan dengan baik. Sangsi tegas diterapkan bila ada yang melanggar,” ungkap laki-laki asal Desa Batuan, Sukawati, Gianyar ini. (SB-Rk)

Comments

comments