Parisada Bali Tolak “Jawa Bali Crossing” | Listrik Menyeberang Segara Rupek

433
Ketua PHDI Bali Sudiana (foto skb)

SULUH BALI, Denpasar – Pasamuhan Madya I Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Selasa, (8/8/2017) secara tegas menolak rencana pembangunan “Jawa Bali Crossing” karena telah bertentangan dengan bhisama PHDI tentang kesucian pura.

Bhisama menegaskan pura dibangun untuk menjadi salah satu benteng spiritual umat Hindu untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Pura sebagai tempat suci dibatasi radius kesucian pura. Ketentuan ini juga masuk dalam awig desa pakraman, pemerintah dari desa sampai provinsi dengan terbitnya Peraturan Daerah Bali No. 16 Tahun 2009 tentang RTRW Provinsi Bali.

Ketua PHDI Bali, Prof. Gusti Ngurah Sudiana, M.Si mengatakan rencana pembangunan Jawa Bali Crossing jelas-jelas telah menganggu bhisama kesucian pura yakni berada di dekat kawasan suci pura Dang Khayangan Segara Rupek.

“Rencana pembangunannya betul-betul tidak memungkinkan karena berada di sekitar pura Segara Rupek. Menurut Bhisama Pura Dang Khayangan harusnya dua kilometer baru boleh ada bangunan, ini lima puluh meter. Tingginya 350 meter. Sedangkan di Bali hanya sebatas pohon kelapa,” ungkapnya.

PHDI selaku lembaga umat Hindu memberikan solusi sama seperti yang telah direkomendasikan Bupati Buleleng yakni dengan mewujudkan Bali Mandiri Energi yang tidak bergantung pada pasokan listrik dari Jawa, namun dikelola sendiri di Bali dengan dibangunnya PT PLTU Celukan Bawang yang menghasilkan pasokan 2×350 MW dengan teknologi energi ramah lingkungan.

Sudiana juga mengajak seluruh umat Hindu untuk  bersama-sama berperan dalam mengawasi jika ada pembangunan yang melanggar atau menganggu radius kesucian pura. Pengawasan ini tidak hanya dilakukan oleh PHDI, “kesucian pura yang mengawasi umat Hindu, bukan hanya Parisada,” ujarnya. (SB-skb)

Comments

comments