Pantai Karangdadi Kusamba, Alami Abrasi Cukup Parah

804

SULUH BALI, Klungkung – Pantai selatan Kabupaten Klungkung, Bali mengalami abrasi cukup parah, sehingga perlu segera mendapat penanganan, agar deburan ombak tidak menimbulkan kikisan dahyat.

Wakil Bupati Klungkung Made Kasta di Semarapura, Sabtu (20/12/2014) mengatakan, abrasi telah mengikis 10-15 meter dari bibir pantai.

Ia sebelumnya sempat melihat dari dekat kondisi Pantai Karangdadi Kusamba, Dawan, Klungkung. Kondisi pantai cukup mengkhawatirkan akibat abrasi yang mengikis lokasi pengaraman perahu tradisional milik warga.

Hal itu juga dikeluhkan salah seorang petani garam Dewa Ketut Candra. “Kami was-was juga karena tenpat untuk menjemur garam sudah semakin sempit akibat abrasi,” ujarnya.

Untuk itu pihaknya berharap ada perhatian dari pemerintah dengan membuat tanggul sehingga abrasi bisa dibendung.

Selain itu petani garam juga mengeluh karena belakangan ini stok garam mereka sebanyak satu ton masih ada tidak ada pembeli.

Petani berharap pemerintah membantu mencarikan pembeli. Selama ini petani garam Kusamba lebih banyak bermain di tingkat ekpor karena kualitas garam mereka memang dikenal sangat bagus.

Bahkan garam Kusamba kerap diekspor sempai ke Jepang. Sementara itu untuk kebutuhan lokal jarang menggunakan garam Kusamba. Ini karena harganya mahal. Bahkan pengrajin pemindangan kusamba juga tidak menggunakan garam ini.

Pemindangan lebih memilih garam dari Madura karena harganya lebih murah. Mahalnya harga garam Kusamba karena kualitasnya yang memang bagus.

Sementara pengrajin lokal seperti pemindangan lebih memilih garam luar yang harganya lebih murah.

Menanggapi keluhan ini Wabup Kasta meminta Dinas terkait terutama Prindagkop untuk segera mencarikan solusi.

Kasta berencana akan menyalurkan garam garam tersebut ke toko toko Swalaya atau mini market yang ada di Klungkung.

Untuk itu garam garam tersebut harus dikemas dan diberi lebel. “Salah satu solusi, bisa saja dijual di Mini Markat atau swalayan yang ada di Klungkung dan sekitarnya,” ujarnya.

Comments

comments

Comments are closed.