Pangdam Wisnu : Perlu Dialog Terbuka

58

Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya (kanan) didampingi Kapolda Bali Arif Wachyunadi

SULUHBALI.CO, Denpasar – Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya menyarankan pentingnya mengumpulkan para ahli hukum untuk dilakukan dialog terbuka. Hal ini disampaikannya pada saat pemaparan masyarakat terkait rencana reklamasi di teluk Benoa, Sabtu (3/8) di gedung Wiswa Sabha, kantor Gubernur Bali.

“Kami ingin supaya KTT APEC aman, sehingga tolong dikaji dan digelar secara terbuka dengan mengumpulkan para ahli hukum itu,” ujarnya.

Diskusi ini dihadiri oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wakil Ketua DPRD Bali Ketut Suwandhi dan para anggota serta berbagai komponen masyarakat yang diberikan kebebasan untuk menyampaikan masukan dan pendapat terkait rencana reklamasi Teluk Benoa. Acara dipandu oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun.

Diskusi berjalan kondusif. Dua ratusan warga yang terdiri dari aktivis lingkungan, akademisi, birokrat dan pihak terkait menyampaikan pendapatnya tentang persoalan pro dan kontra Reklamasi Teluk Tanjung Benoa yang muncul di media massa beberapa minggu ini, berlangsung dari pagi hingga petang hari.

Gubernur Pastika pada pembuka diskusi menyampaikan kesiapan mendengarkan semua pendapat dan akan menjawab semua pertanyaan, sehingga semua bisa tahu apa sesungguhnya yg terjadi dan tidak terkotak-kotak oleh pemberitaan sepotong sepotong.

Pada saat pertama, LPPM Unud dan PT TWBI sebagai penerima SK memberikan presentasi. Lalu sejumlah peserta berbicara, seperti Gendo Suardana dan Prof. Ibrahim memberikan pendapatnya. Juga sejumlah warga dari desa-desa setempat, bahkan ada juga warga yang jauh – jauh datang dari beberapa Kabupaten di Bali untuk memberikan aspirasi.

Berbagai kritik dan saran disampaikan oleh beberapa orang dari mendukung dan menolak adanya SK yang dikeluarkan Gubernur Bali.

 

Belum Final

Gubernur Bali menanggapi semua aspirasi dan pertanyaan yang dilontarkan masyarakat yang datang di acara ini. Pastika menjelaskan bahwa dalam pembangunan pasti ada perubahan, dan ada pro kontra. Tetapi maksud dari reklamasi ini pembangunan jangka panjang dimana akan berdampak positif bagi SDM dan masyarakat sekitarnya. Ia juga menegaskan pasti ada dampak negatifnya, maka dari itu ada tim ahli dalam bidangnya untuk mengkaji hal tersebut.

Ketat
Penjagaan ketat sebelum masuk ke ruang diskusi gedung Wiswa Sabha.

Made Mangku Pastika menambahkan ini belum keputusan final, masih ada proses – proses selanjutnya. Maka dari itu masyarakat harus bersabar dan tidak terprovokasi oleh beberapa pihak.

Ia mengatakan, “Saran dan kritik itu kan perlu, jadi harus diterima dengan lapang dada dan harus direspon dengan baik ,” tegas pastika.

Berbagai respon dan tanggapan dinilai sebagai wujud kepedulian dan kecintaan terhadap Bali. Hanya saja, Gubernur berharap kecintaan dan kepedulian tersebut diletakkan secara proporsional demi kemajuan Bali.

Menurutnya, reaksi pro dan kontra terkait rencana reklamasi Teluk Benoa bergulir tanpa arah yang jelas. Diskusi yang melibatkan seluruh komponen terkait diharapkan memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada masyarakat tentang apa yang akan dilaksanakan di kawasan Teluk Benoa.

Di akhir acara Pastika dalam wawancara mengatakan semua kritik dan saran akan ditampung dan dijadikan bahan pertimbangan dalam memperbaikan dan mengkaji tentang keputusan Reklamasi ini. Ia juga mengajak berbagai pihak seperti Gendo Suardana dan Prof. Ibrahim dan yang  ahli dalam bidang ini untuk ikut merundingkan dan membicarakan untuk mencari solusi yang terbaik tentang Reklamasi ini sehingga tidak ada lagi kecerugian yang disampaikan oleh salah satu pihak. “Semakin banyak kritik dan saran maka semakin baik,” tegasnya lagi. (SB-Eny/Putra)

Comments

comments

Comments are closed.