Prof Dewa Ngurah Supartha bicara, didampingi Dewa Raka Sandhi dan Alit Kelakan di Kubu Kopi, Denpasar (foto wan)
Back

1. Pancasila dan Kebhinekaan

SULUH BALI, Denpasar — Fanatisme kini menjadi ancaman bagi nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara. Dimana nasionalisme seharusnya menjadi identitas dengan mengedepankan nilai-nilai Pancasila. Buktinya sila-sila dalam Pancasila  tidak dihafalkan, apalagi diamalkan.

Demikian disampaikan Dewan Pakar Pesatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Prof. Dewa Ngurah Suprapta dalam diskusi terbuka dengan tema “Pancasila, Tantangan Kebhinekaan dan Dinamika Politik Bali 2017 di Kubu Kopi, Jalan Hayam Wuruk Denpasar.

Dewa Suprapta menyesalkan sikap para pemimpin dan tokoh bangsa yang seakan tidak peduli ketika Pancasila dilecehkan. Padahal Pancasila seharusnya di junjung tinggi dan diamalkan. “Bagaimana menganggap pancasila penting? Ketika pancasila dilecehkan tidak ada gerakan sejuta masyarakat” kata Dewa Suprapta.

Dewa Suprapta mencontohkan kasus pelecehan Pancasila oleh oknum Angkatan Bersenjata Australia seharusnya menjadi perhatian semua pihak dan direspon secara proporsional. Kenyataanya belum ada gerakan masyarakat yang mengutuk pelecehan terhadap Pancasila tersebut.

Seperti yang ditunjukkan oleh Panglima Angkatan bersenjata RI. “Saya pribadi berpendapat bahwa kita patut marah seperti kemarahan yang ditunjukkan oleh Panglima Angkatan bersenjata RI. Namun justru beberapa pihak menyarankan Panglima TNI tidak merespon berlebihan” jelas Dewa Ngurah Suprapta.

Dewa Suprapta menyampaikan Pancasila juga menghadapi tantangan yang bersifat internal. Seperti munculnya beberapa fenomena kearah pengingkaran terhadap nilai-nilai pancasila Ketuhanan, Hak Azasi manusia, Persatuan, Musyawarah dan keadilan. Sebagai contoh terdapat sekelompok masyarakat yang berprilaku sewenang-wenang tanpa mengindahkan tatanan berbangsa dan bernegara yang dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila.

Menurut Dewa Suprapta tantangan internal lainnya adalah fenomena prilaku hidup mewah, individualistis, hedonis dan memudarnya budaya malu yang terjadi akhir-akhir ini. Buktinya sudah banyak para pejabat, penegak hukum, pengusaha dan masyarakat yang tersangkut masalah korupsi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai pancasila belum sepenuhnya diamalkan.

Dewa Suprapta menambahkan ketika era otonomi dimana daerah memiliki kewenangan yang lebih luas juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga nilai-nilai Pancasila. Banyak daerah yang kemudian menyusun peraturan daerah (Perda) yang tidak lagi menganut nilai-nilai Pancasila.

Pada akhirnya Perda ratusan Perda yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dibatalkan. “Ini keteledoran dalam menjaga Pancasila, sehingga memberi peluang munculnya nilai-nilai di luar Pancasila” tegas Dewa Suprapta.

 

Back

Comments are closed.