Ormas PBB Kunjungi Warga Kampung Bugis Tergusur

712
Ketua PBB Made Muliawan Arya saat mengunjungi korban penggusuran di Serangan (foto ist).

SULUH BALI, Denpasar — Organisasi masyarakat Pemuda Bali Bersatu (PBB) melakukan aksi kemanusiaan dengan mengunjungi warga Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Kota Denpasar yang terkena gusur pada Sabtu (7/1/2017).

“Saya prihatin dengan kondisi warga masyarakat Kampung Bugis, Keluruhan Serangan pasca-tergusur, karena itu kami berupaya memberikan bantuan untuk keperluan mereka, terutama kepada anak-anak yang masih sekolah,” kata Ketua Ormas PBB Made Muliawan Arya di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan pihak Ormas PBB memberikan sumbangan baju seragam sekolah, alat-alat tulis dan sepatu kepada anak-anak yang terkena penggusuran tersebut pada pekan lalu.

“Bagaimana tidak terharu, saya juga punya anak kecil dan melihat mereka (anak-anak) yang trauma bermain dan belajar di dalam tenda membuat saya sedih. Saya terharu dan membayangkan bagaimana kalau itu terjadi pada diri kita sendiri,” kata Muliawan Arya yang akrab dipanggil De Gadjah.

Menurut De Gadjah, oleh karena itu pihaknya bersama pengurus dan anggota Ormas PBB untuk berbuat untuk kemanusiaan yang menghadapi permasalahan, seperti sekarang ini warga Kampung Bugis hidup di tenda.

Pada kesempatan tersebut, Ormas PBB selain memberikan sumbangan berupa alat-alat sekolah, juga memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa agar rajin belajar dan tidak trauma lagi dalam korban pengusuran serta bisa pulih kembali normal belajar ke sekolahnya masing-masing.

Menurut De Gadjah, kebutuhan yang paling mendesak dibutuhkan anak-anak korban penggusuran adalah seragam sekolah, baik berupa pakaian, sepatu, dan alat tulis lainnya.

Untuk itulah, De Gadjah mengaku Ormas PBB menyumbangkan baju seragam sekolah, sepatu, dan alat tulis kepada anak-anak korban penggusuran yang jumlahnya mencapai 44 anak yang terdiri dari anak taman kanak-kanak (TK) tujuh orang, sekolah dasar (SD) 23 orang, SMP dan SMK masing-masing sebanyak tujuh orang.

“Sebelumnya anak-anak korban penggusuran di Kampung Bugis, saat kami tanya sangat takut melihat orang bergerombol. Kami sudah melakukan koordinasi dengan psikiater dari RSUD Wangaya dan RSUP Sanglah untuk bisa memberikan pendampingan kepada anak-anak korban penggusuran tersebut,” ucapnya.

Ia berharap dengan pendampingan dari para psikiater, diharapkan anak-anak tersebut tidak lagi trauma dengan masalah yang dihadapi tersebut.

“Kami berharap dengan pendampingan dari psikiater, anak-anak tersebut traumanya bisa hilang. Kami berharap mereka bisa sekolah dan menerima kenyataan dari dampak permasalahan tersebut,” katanya. (SB-ant)

Comments

comments

3 COMMENTS

Comments are closed.