Orang Bali Kembali ke “Stil Bali”

681
Salah satu bangunan stil Bali. |foto-rk|

SULUH BALI – Belakangan orang Bali kembali merindukan bangunan dengan “Style Bali”. Orang Bali maupun para tukang “Style Bali” menyebut dengan “stil Bali”. Kini rumah tinggal, pelinggih, sanggah, merajan, pura hingga bale banjar nyaris kembali bangkit ber-stil Bali. Sehingga banyak kita saksikan bangunan yang masih kokoh dibongkar, maupun bangunan yang baru mulai dikerjakan, direhab dan dibuat kembali dengan stil Bali.

Kebangkitan dan trend demikian, menjadi peluang bagi tenaga atau tukang stil Bali. Begitu pula usaha penyedian bahan-bahan untuk membuat bangunan stil Bali. Penjual bahan-bahan material bangunan stil Bali pun kini makin menjamur. Bukan saja bahan lokal, material luar Bali pun kini menyerbu Bali.

Hal tersebut seiring dengan inovasi-inovasi dan variasi bangunan stil Bali yang terus berkembang. Kalau dulu bangunan stil Bali lebih banyak menggunakan bahan lokal, seperti batu padas, bata merah, ijuk, kayu lokal, begitu juga ukir-ukiran lokal. Tapi kini batu, kayu, bahan ukiran sebagian didatangkan dari luar Bali. Dipadukan dan divariasikan ke dalam bangunan-bangunan stil Bali.

Beberapa desa di Bali juga dikenal sebagai penghasil bahan material untuk membuat bangunan stil Bali. Seperti Desa Tulikup, Gianyar dikenal sebagai penghasil bata merah. Silakarang dikenal sebagai penghasil batu padas (paras aon/paras gosok) yang bagus. Ijuk banyak dihasilkan di Desa Wangaya Gede, Tabanan dan Jembrana. Perlu ukir-ukiran cukup pergi ke Desa Belayu, Marga dan sekitarnya, atau ke Semita, Gianyar dan sekitarnya.

Begitu pula tenaga atau tukang bangunan stil Bali identik dengan beberapa desa, yang khusus mengerjakan bagian-bagian bangunan stil Bali. Desa Lebih, Gianyar misalnya, dikenal terampil mengerajakan pekerjakaan “nempel” pada bangunan stil Bali. Bahkan ketrampilan warga di desa Lebih ini, dipercaya mengerjakan bangunan stil Bali hingga luar daerah, bahkan ke luar negeri. Begitu pula beberapa desa lain di Bali, yang kerap kita dengar mengerjakan bangunan stil Bali di manca negara. Baik bangunan untuk sarana wisata, perkantoran hingga tempat tinggal pribadi selebrity dunia.

Untuk urusan bangunan, orang Bali terbilang memiliki cita rasa yang tinggi. Lengkap dengan pembagian dan fungsi masing-masing. Ada bale daje (meten), Bale dangin : bale gede, sekutus, sekenem (bale mundak). Bale dauh, paon (dapur), merajan dan seterusnya. Angkul-angkul, lumbung, gelebeg, langki, aling-aling dan seterusnya. Bisa dibayangkan biaya masing-masing bangunan apabila ber-stil Bali.

Tapi begitulah benak dan rasa keyakinan orang Bali. Bangunan tidak sekedar rumah tempat tinggal, tidak sekedar bisa nyaman untuk bercengkrama bagi keluarg. Bangunan bagi orang Bali menyangkut kepercayaan, keyakinan, bangunan adalah rasa seni dalam arti fisk dan jiwa. Bangunan adalah juga sebagai representasi sosial penghuninya. Ditata dan disiapkan sebagai tempat lahir, besar, berinteraksi dan sekaligus tempat “tidur” sementara saat kematian nanti.

Mahal dan rumit memang. Karena bahan-bahan dan ongkos tukang membuat bangunan ber-stil Bali tidak murah. Rumit, karena bangunan stil Bali lekat dengan berbagai kepercayaan yang mengikutinya (termasuk berpedoman kepada asta kosala-kosali dan asta bumi). Begitu pula sejak saat memulai membangun, saat pengerjaan hingga bangunan telah rampung, semua dilakukan dengan mencari hari baik serta upacara. (SB-Rk)

Comments

comments