OGOH-OGOH | Wujud Harmonisasi Manusia Dengan Alam “BUTA HITA”

264

Oleh: Supadma Kerta Buana

Menjelang hari suci Nyepi hampir semua pemuda banjar di seluruh Bali membuat Ogoh-ogoh. Kreatifitas membuat ogoh-ogoh merupakan salah satu kearifan budaya lokal yang terlaksana pada kehidupan masyarakat Bali secara turun-temurun. Pembuatan ogoh-ogoh terkait dengan pelaksanaan pengrupukan pada tilem sasih kesanga yaitu sehari sebelum hari suci nyepi. Pengrupukan merupakan upacara buta yadnya yang diawali dengan melaksanakan mecaru tawur agung kesanga di desa masing-masing dan kemudian dilanjutkan dengan mengarak ogoh-ogoh.

Keberadaanya ogoh-ogoh pada kebudayaan masyarakat Bali telah ada secara turun temurun sejak dahulu dan berlangsung sampai saat ini. Penggambaran wujud ogoh-ogoh ini erat kaitannya dengan kepercayaan umat Hindu terhadap adanya mahluk dimensi lain di luar kehidupan manusia. Hal ini diyakini sebagai wujud buta kala yang memiliki penggambaran yang menyerupai raksasa besar.

Buta kala dilihat dari arti kata buta mengandung arti ada atau telah diadakan atau telah diwujudkan dan kala artinya waktu. Arti kata buta bisa juga diartikan sebagai unsur-unsur pembentuk alam semesta yang dikenal dengan nama panca maha buta (lima unsur pembentuk alam semesta). Jadi butha kala dapat diartikan sebagai sebuah kekuatan yang ada dan terwujud sebagai unsur-unsur pembentuk dan penjaga alam semesta.

Secara mitologi dalam lontar tattwa kalla disebutkan bahwa kelahiran Bhatara Kala berawal dari perjalan Bhatara Siwa dan Bhatari Uma diatas samudra. Pada perjalanan tersebut timbullah keinginan Bhatara Siwa untuk bercumbu dengan Bhatara Uma. Hal ini kemudian menyebabkan jatuhnya air mani Bhatara Siwa ke samudra. Air mani yang jatuh ke samudra ini kemudian berubah menjadi wujud raksasa besar dan menakutkan.

Bhatara Kala yang diceritakan tidak mengetahui tentang kelahiranya menyebabkan marah dan menyerang dewa-dewa untuk mencari orang tuanya. Perjalanan itu kemudian mengantarkannya bertemu dengan Bhatari Uma yang kemudian bersabda sesuai engan lontar tattwa kalla sebagai berikut “…Ndah ling sira Bhaþàrì: ”Uduh bapa-naku hana paganugrahang kwa ri kita, mangke aja sira cahuh, anusup sira ring deúa pakraman, ring dalêm sira alungguh, Duega maka aran ta sangkaying ibun ta Bhaþàrì karanan ing dadi Bhaþàrì Durga, Bhaþàra Úiwa iki bapan ta asung maka sajñana ta kalanya syung ira kapunggêl. Mangkana harane kita, dadi kita dewan ing watêk Kala, Durga, piúaca, wil, Dànuja, Kingkara, rakûasa mwang gring, sasab, marana kabeh, sahanan ing sarwa wisya mandi, nging ring deúa yogya pangreh ta ring sarwa mangsa ika, kunang kalan ing hulun tumamah ing dalêm dadya hulun Bhaþàrì Durga Dewi, apan ing hulun anugraha ri kita…”. Artinya Selanjutnya bersabdalah Bhaþàrì Uma: ”Duhai putraku, ada anugerahku padamu, mulai sekarang janganlah engkau mengembara, menyusuplah engkau di desa pakraman, di pura Dalemlah engkau tinggal, Durga sebagai namamu, pemberian ibumu yang bernama Bhaþàrì Uma, itulah sebabnya engkau menjadi Bhaþàra Durga. Bhaþàra Úiwa ini adalah ayahmu, yang menganurahkan kamu nama Hyang Kala, pada waktu taringmu dipotong. Demikianlah namamu, engkau menjadi dewanya kelompok Kala, Durga, Pasica, Wil, Danuja, Kingkara, rakûasa dan segala macam penyakit, hama, serta segala macam bisa (racun), dan segala kekuatan gaib, di desa engkau dibenarkan untuk memakan segala makananmu itu. Adapun pada saat aku berada di pura Dalem maka menjadilah aku Bhaþàrì Uma Dewi, karena akulah yang menganugrahkanmu

Merujuk mitologi tentang cikal bakal buta kala inilah yang kemudian menjadi keyakinan umat Hindu di Bali tentang keberadaan buta kala. Keberadaan buta kala diyakini merupakan anak dari Bhatara Siwa dan Bhatari Uma. Buta kala diyakini ada disetiap desa dan memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan desa. Buta kala dilambangkan sebagai sosok jahat dan memiliki kekuatan buruk yang dapat mengangu kehidupan manusia.

Buta kala yang identik dengan hal buruk ini kemudian perlu dinetralisir keberadaanya agar senantiasa tidak menggangu kehidupan manusia. Menjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan atau mahluk dibawah manusia (butha kala) inilah salah satu cara untuk menetralisirnya. Keariafan lokal tri hita karana juga telah mengajarkan tentang tiga komponen keseimbangan atau harmonisasi yang merupakan dasar dari keselarasan alam dan kehidupannya. Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan harus tetap dijaga kelangsungannya. Salah satu ajaran mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan.

Keseimbangan manusia dengan alam juga jelas disebutkan dalam kitab Saracamuscaya 135 yang berbunyi “Usahakanlah selalu kesejahteraan makhluk hidup di semesta ini, karena hanya dengan tetap terpeliharanya kesejahteraan dan kelangsungan hidup mereka itulah keberadaan dan keterjagaan semesta ini tetap terjamin”.

Menjaga keseimbangan manusia dengan lingkungan (buta kala) salah satunya diwujudkan dalam bentuk upacara buta yadnya. Buta yadnya ini merupakan salah satu bagian dari panca yadnya yang berarti persembahan suci kepada lingkungan sekitar (buta kala). Kutipan lontar tattwa kala menyebutkan pengertian buta yadnya yaitu:

”…Kunang ikang bhùta yajña maka ngaran ing tawur, kweh pratingkahnya agung alit sarùpa ning tawur ya Bhùta-yajña juga nga. Ika maka tadahane kita parêng lan wadwa kala nira makabehan, apan tawur makas sisilih wak ira sang adrêwe ya caru, apan panawur daóða ning sudoûa nira twin kadurmitan kaupadrawan lawan kadurmanggalanira prasiddha ning pamidaóðanira agung alit tùtên ira pwa ya…”. Artinya Adapun Bhùta Yajña itu adalah tawur.artinya Beragam bentuknya, besar-kecil tawur bentuknya itu juga Bhùta yajña namanya. Itu menjadi santapanmu bersama dengan rakyat kalamu semua, oleh karena tawur sebagai korban orang yang menyelanggarakan caru, sebagai pembebas hukuman orang yang berdosa ataupun (orang yang memperoleh) pertanda buruk, mala petaka, dan isyarat yang kurang baik, (tawur) itu dapat menghilangkan hukuman yang besar dan kecil, karena itu patut diikuti.

Salah satu wujud dari pelaksanaan buta yadnya adalah upacara tawur agung kesanga dan pengerupukan yang dilaksanakan pada tilem kesanga sehari sebelum hari suci Nyepi. Pada saat upacara pengerupukan keberadaan ogoh-ogoh tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan ini. Keberadaan ogoh-ogoh yang merupakan simbolisasi dari buta kala mengambarkan tentang kekuatan buta kala. Penggambaran tentang kekuatan buta kala pada ogoh-ogoh adalah bengis, seram, menakutkan dan berbentuk raksasa.

Keberadaan Ogoh-ogoh ini sesungguhnya menggambarkan simbolisasi kekuatan buruk buta kala dan kemudian keberadaanya itu somia (dinetralisir) agar senantiasa menjadi kekuatan baik yang tujuannya agar tidak mengangu kehidupan manusia. Saat kekuatan buruk dari kala itu berubah menjadi kekuatan baik (somia) maka buta kala tidak lagi akan menjadi penggangu kehidupan manusia bahkan akansebaliknya yaitu menjaga kehidupan alam dan manusia.

Ogoh-ogoh dapat diartikan pula sebagai bentuk hubungan harmonis antara manusia dengan keberadaan buta kala. Manusia menyadari bahwa kehidupannya selalu berdampingan dengan keberadaan buta kala. Pembuatan ogoh-ogoh sebagai bentuk simbol dari kekuatan buta kala menandakan bahwa manusia menghormati keberadaan buta kala. Penghormatan dan persembahan manusia kepada lingkungan (buta kala) ini tujuan utamanya adalah kembalinya wujud kekuatan buruk (buta kala) menjadi kekuatan baik (dewa).

Seperti pada kutipan lontar tattwa kala yang menyebutkan buta kala akan kembali ketika telah menerima persembahan dari manusia. Yaitu “…Yanyan wus tiningkah samangkana wênang kita ranaku somya rùpa lawan sawadwa kalan ta, mari saglêng ta saha pamidaóða, anadahan kita panglukatan ring sang brahmana Úiwa Buddha prasiddha umilang akên lêmah ning úarìra wayawan ta. Byakta kita atêmah dewata dewati. Maran sira wênang apisan lawan bapa babun ta amukti ring swarga loka…”. Artinya Kalau itu telah dilaksanakan, maka engkau putraku dan seluruh rakyat kalamu kembali dalam wujudmu yang lemah lembut, lenyap segala keangkaraanmu demikianlah hukumanmu, engkau akan menerima ruwatan dan pendeta Úiwa-budha, sehingga dapat menghilangkan kebencian yang melekat pada badanmu. Yang menyebabkan engkau menjadi dewa-dewi. Engkau akan dapat bersama-sama dengan ayahmu ibumu menikmati alam sorga.

Ahir dari pelaksaan pengerupukan adalah membakar (memprelina) ogoh-ogoh yang telah diarak keliling desa. Tujuan dari pembakaran ogoh-ogoh ini adalah melebur kekuatan buruk dari wujud buta kala kembali menjadi kekuatan baik dan menyebabkan terwujudnya keseimbangan manusia dengan alam. Inilah tujuan utama dari pelaksanaan buta yadnya yaitu harmonisasi alam yang mengantarkan manusia dan alam hidup akan saling berdampingan atau “Buta Hita”.

Comments

comments