Foto Saat Kegiatan Pawai Ogoh-Ogoh oleh Sekaa Teruna

SULUH BALI – Sudah menjadi agenda rutin setiap tahun menjelang Hari Raya Nyepi, sekaa teruna masing-masing banjar mempersiapkan ogoh-ogoh yang nantinya ditampilkan dan diarak saat Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi.

Mereka, para sekaa teruna itu jauh-jauh hari sudah menggelar rapat-rapat di bale banjar. Membuat rencana penggalian dana, kepanitiaan, membuat ide ogoh-ogoh yang akan dibuat termasuk atraksi yang mengiringinya nanti. Maka masing-masing bale banjar biasanya jadi tampak sibuk dan ramai menjelang Hari Raya Nyepi.

Akan menjadi lebih serius lagi apabila diadakan perlombaan terhadap ogoh-ogoh yang mereka buat. Mereka ingin menampilkan karya seni ogoh-ogoh yang terbaik. Mengharumkan nama banjar sekaligus menggali, menampilkan bakat-bakat seni yang dimiliki anggota Sekaa Teruna.

Kegiatan membuat ogoh-ogoh ini menjadi ruang yang luas bagi kreatifitas mereka. Membangkitkan bakat-bakat seni yang selama ini mereka pendam. Sekaligus pengingat, mengasah kembali ketrampilan seni yang barangkali belum mereka kuasai. Misalnya, mau tidak mau mereka akan mencoba atau belajar membuat ukiran untuk kelengkapan ogoh-ogoh. Yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka coba dan pikirkan untuk membuat ukiran.

Syukurnya, sekarang hampir tiap banjar sudah memiliki perangkat gong. Hal ini juga sebagai salah satu media untuk menggali, mengasah bakat-bakat seni anggota sekaa teruna. Yang sebelumnya mungkin tidak tertarik ikut megambel, karena untuk mengiringi ogoh-ogoh, maka akhirnya ikut belajar megambel. Tak terkecuali anggota sekaa yang perempuan, juga mesti mempersiapkan garapan tari-tarian sebagai pengiring. Sehingga seni tabuh dan tari menjadi “hidup” di tiap banjar.

Antara Seni Tradisi dan Pemanfaatan Teknologi Informasi

Terlebih lagi sekarang jaman teknologi informasi dengan kehadiran media sosial yang dengan mudah dan cepat menginformasikan berbagai kegiatan para sekaa teruna. Masing-masing sekaa teruna tiap saat mengunggah kegiatan mereka dalam membuat ogoh-ogoh. Mulai dari mencari bambu hingga begadang di bale banjar mereka unggah. Ini juga memberi semangat, menarik sekaa yang selama ini ogah-ogahan datang ke bale banjar menjadi tergerak hatinya. Begitun karena internet (media sosial) ini seperti melecut saling mempengaruhi untuk membuat karya yang terbaik bagi masing-masing sekaa teruna.

Menariknya lagi, dan ini patut mendapat apresiasi. Yakni saat ini ternyata hampir semua sekaa teruna sudah memiliki akun di media sosial. Baik itu instagram, facebook maupun di youtube. Segala kegiatan mereka, mulai dari yang ringan, kerja bakti bersih-bersih, sembahyang, ulang tahun, proses pembuatan ogoh-ogoh hingga saat mereka tampil pawai mengarak ogoh-ogoh itu mereka unggah di media tersebut.

Tak cuma sekedar dokumentasi foto-foto atau video biasa. Mereka bahkan dengan sangat serius menggarap video aktivitas mereka terutama video saat mempersiapkan maupun saat pawai ogoh-ogoh kemarin. Ini lagi memberi ruang yang luas bagi munculnya bakat-bakat seni dibidang teknologi informasi terutama fotografi maupun video editing. Begitupun dengan pembuatan ogoh-ogoh, ada beberapa sekaa teruna yang bahkan menggabungkannya dengan teknologi informasi ini. Salah satu sekaa teruna di Panjer misalnya, mengunggah di media sosial, mereka menciptakan karya ogoh-ogoh yang mampu digerakkan, dikendalikan melalui google dengan smartphone.

Hal lain yang juga perlu diapresiasi, saat Nyepi maupun saat pengerupukan kemarin berlangsung aman, tertib dan damai. Bahkan Kapolda Bali juga memberi apresiasi terhadap suasana aman, tertib dan nayamn saat perayaan Hari Raya Nyepi kemarin. Nyaris tidak ada lagi terdengar letupan-letupan suara mercon atau “keplug-keplugan”. Aparat keamanan, pecalang, tokoh-tokoh desa pakraman juga “menjaga” agar Nyepi berlangsung khusuk dan nyaman. (SB-Rk)

Comments

comments