Nyepi, “Pensucian” Bhuana Alit dan Bhuana Agung

0
642
Melasti sebelum dilaksanakan upacara Nyepi (foto rk).

SULUH BALI – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940 nanti bertepatan dengan Hari Raya Saraswati. Sabtu tanggal 17 Maret 2018 tersebut merupakan hari yang sangat istimewa bagi umat Hindu. Momentum hari dimana dilakukan upacara sebagai penghormatan terhadap ilmu pengetahuan suci, kemudian pada hari itu juga dilaksanakan Catur Brata Penyepian.

Kalau kita renungkan dan maknai kedua hari raya tersebut, sesungguhnya memberikan pesan yang dalam bagi kesadarn kita untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik dan tercerahkan. Sebagaimana dalam kitab-kitab Hindu, banyak sudah disuratkan akan penting dan keutamaan  ilmu pengetahuan (suci) tersebut. Maka kita juga kenal adanya Jnana Yoga Marga sebagai bagian Catur Marga.

Kemudian saat Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Yakni Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian, diam tidak kemana-mana), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang, menikmati hiburan, termasuk tidak menikmati hiburan lewat internet) dan Amati Gni (tidak menyalakan api, tidak menghidupkan listrik, lampu).

Artinya pada saat Nyepi, kita mengendalikan diri untuk “Diam”. Karena tidak bekerja, tidak bepergian, tidak menikmati hiburan, maupun menyalakan lampu atau api. Bukankah pengendalian diri seperti itu kita belajar untuk melakukan meditasi, samadhi ? Ini juga sekaligus melatih diri melaksanakan salah satu dari Catur Yoga Marga yakni Raja Yoga Marga. Sebuah proses pensucian diri untuk kemudian membuka bangkitnya “pengetahuan” Diri.

Menariknya, sebelum melakukan “pensucian” diri (bhuana alit), alam semesta (bhuana agung) pun “disucikan” dengan terlebih dahulu melaksanakan Melasti dan Tawur. Alam lingkungan kita dibersihkan, disucikan. Kemudian diri kita disucikan dengan pengetahuan suci melalui pengendalian diri. Jadi ini merupakan proses “pensucian” alam semesta dan diri pribadi masing-masing sehingga tercipta “kehidupan baru” yang lebih baik.

Berat memang untuk diam, untuk hening, sepi dan untuk berhenti. Karena itu juga berarti menghentikan kebiasaan yang telah memberikan kesenangan, menghentikan hasil dari segala kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan. Karena itu juga mendiamkan keinginan-keinginan yang senantiasa membuat gairah, semangat kita dalam bekerja. Tetapi, saat Nyepi inilah kita belajar untuk “Diam”.

Dalam kondisi diam, kita mengarungi keheningan dalam diri. Sehingga sesudah melaksanakan Catur Brata Penyepian (Nyepi) ini, kita menyongsong kehidupan baru yang dipenuhi “kesadaran dan kesucian”. Yakni bekerja, melakukan tugas-tugas dan kewajiban hidup dengan spirit Karma Yoga Marga. (SB-Rk).   

Comments

comments